Sebagai upaya memperkuat fondasi karakter generasi muda di lingkungan pendidikan keagamaan, Komando Distrik Militer (Kodim) 0731/Klaten melalui Danramil 24/Klaten Utara, Kapten Inf Abdul Rojaq, melaksanakan kegiatan pembinaan teritorial berupa pemberian materi Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara kepada 130 santriwati di Pondok Pesantren Ibnu Abbas. Program ini merupakan bagian integral dari upaya sistematis membangun karakter dan jiwa nasionalis di kalangan pelajar, khususnya di lingkungan pesantren, sebagai salah satu pilar ketahanan nasional. Sinergi antara institusi TNI dan lembaga pendidikan Islam ini menegaskan bahwa pembangunan wawasan kebangsaan adalah tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa.
Wasbang dan Bela Negara: Konsep yang Hidup dan Relevan bagi Santri
Materi yang disampaikan oleh Kapten Inf Abdul Rojaq menekankan bahwa Wawasan Kebangsaan (Wasbang) bukanlah sekadar teori, melainkan fondasi kesadaran berbangsa dan bernegara yang harus dipahami oleh setiap generasi muda, termasuk para santri. Lebih jauh dijelaskan, konsep Bela Negara memiliki cakupan yang luas dan inklusif. Tidak terbatas pada pengabdian di bidang militer semata, bela negara dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk peran serta aktif warga negara sesuai dengan profesi dan posisinya masing-masing. Bagi pelajar dan santri, kontribusi tersebut dapat diaktualisasikan melalui:
- Disiplin dan semangat belajar tinggi untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
- Menjaga persatuan dan kesatuan dalam lingkungan yang beragam.
- Menghormati perbedaan suku, agama, dan budaya sebagai kekayaan bangsa.
- Mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila dan ajaran agama dalam interaksi sosial sehari-hari.
Pendekatan ini mengajarkan bahwa setiap individu, dengan potensinya sendiri, dapat menjadi bagian aktif dari sistem pertahanan negara yang komprehensif.
Pendekatan Dialogis: Membangun Pemahaman, Bukan Sekedar Penyampaian Materi
Keberhasilan program pendidikan karakter seperti ini sangat bergantung pada metode penyampaiannya. Kegiatan di Pondok Pesantren Ibnu Abbas dirancang secara dialogis dan interaktif, memberikan ruang yang luas bagi para santriwati untuk bertanya, berdiskusi, dan menyampaikan pemikiran mereka. Beberapa topik yang mengemuka dalam sesi tanya jawab tersebut antara lain peran konkret generasi muda dalam mengisi kemerdekaan, tantangan menjaga persatuan di era digital yang penuh dengan informasi beragam, serta strategi untuk tetap konsisten mengamalkan nilai-nilai kebangsaan. Metode partisipatif ini terbukti efektif karena:
- Mendorong peserta untuk berpikir kritis terhadap materi yang diterima.
- Memfasilitasi internalisasi nilai-nilai secara lebih mendalam karena dilibatkan secara aktif.
- Menjembatani teori dengan konteks kekinian dan tantangan nyata yang dihadapi pelajar.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip pembelajaran kurikulum merdeka yang menekankan pada keterlibatan aktif siswa, menunjukkan bahwa pendidikan Wasbang dan bela negara dapat diselaraskan dengan perkembangan pedagogi modern.
Program pembinaan karakter dan wawasan kebangsaan di lingkungan pesantren ini memiliki tujuan strategis jangka panjang. Kolaborasi antara TNI dan pesantren diharapkan mampu mencetak sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara akademik dan religius, tetapi juga memiliki integritas serta jiwa nasionalis yang kokoh. Generasi santri yang memahami hak dan kewajibannya sebagai warga negara, serta siap berkontribusi positif bagi masyarakat, merupakan aset berharga bagi ketahanan nasional. Mereka adalah contoh nyata bahwa spiritualitas keagamaan dan nasionalisme dapat bersinergi membentuk pribadi yang utuh.
Sebagai penutup, kegiatan ini mengajak baik para guru (ustadz/ustadzah) maupun pelajar (santri) untuk melihat pendidikan bela negara bukan sebagai program insidental, melainkan sebagai bagian dari proses pembentukan karakter sehari-hari. Bagi pendidik, ini adalah ajakan untuk mengintegrasikan nilai-nilai cinta tanah air, persatuan, dan tanggung jawab sosial dalam materi pengajaran. Bagi pelajar, ini adalah motivasi untuk terus belajar, berdisiplin, dan aktif berkontribusi di lingkungannya, karena semua itu adalah bentuk nyata dari kecintaan pada tanah air Indonesia. Mari bersama-sama kita wujudkan generasi muda yang religius, cerdas, dan mencintai negerinya.