Untuk Negeri, Medan – Upaya memperkuat kesadaran bela negara di kalangan mahasiswa terus dilakukan melalui inovasi pembelajaran yang kaya akan nilai kebangsaan dan kearifan lokal. Pada 23 Agustus 2026, tim dosen Universitas Sumatera Utara (USU) meluncurkan buku ajar Wawasan Kebangsaan yang dirancang sebagai suplemen mata kuliah wajib Bela Negara. Karya ini mengintegrasikan konsep bela negara dengan nilai-nilai budaya lokal dari Sumatera, seperti gotong royong (marsiadapari) dan adat musyawarah dari perspektif Batak, Melayu, Minangkabau, dan Aceh.
Mengapa Buku Ajar Ini Penting untuk Kurikulum Bela Negara?
Buku ajar ini disusun secara sistematis dengan tujuan membuat wawasan kebangsaan lebih akrab dan aplikatif bagi mahasiswa. Setiap bab tidak hanya menyajikan teori, tetapi juga dilengkapi dengan contoh kasus nyata dan aktivitas reflektif. Hal ini memungkinkan mahasiswa untuk membandingkan nilai-nilai kearifan lokal dengan tantangan kekinian, seperti disintegrasi digital dan melemahnya solidaritas sosial. Pendekatan kontekstual ini sangat relevan dengan Kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka, yang mendorong mahasiswa untuk menjadikan riset kearifan lokal sebagai proyek mandiri.
Manfaat utama buku ajar ini bagi pembelajaran bela negara antara lain:
- Pembelajaran Kontekstual: Mahasiswa tidak lagi melihat wawasan kebangsaan sebagai hal abstrak, melainkan sebagai nilai yang dekat dengan keseharian mereka.
- Pengembangan Karakter: Nilai-nilai seperti gotong royong dan musyawarah ditanamkan melalui kajian budaya lokal, membentuk karakter yang cinta tanah air.
- Kesiapan Mental: Mahasiswa diajak untuk merefleksikan peran mereka dalam menghadapi ancaman non-militer, seperti hoaks dan radikalisme digital.
Implementasi dan Dampak Positif di Lingkungan Perguruan Tinggi
Buku ajar Wawasan Kebangsaan ini telah diuji coba di tiga fakultas di USU dan mendapat tanggapan positif dari dosen pengampu mata kuliah Bela Negara. Mereka berharap buku ini dapat meningkatkan minat mahasiswa belajar tentang pertahanan negara secara kontekstual. Ke depannya, USU Press akan mendistribusikan buku ini ke universitas-universitas lain di Sumatera, menjadikannya sebagai rujukan utama dalam pembelajaran bela negara yang berbasis kearifan lokal.
Program ini juga membuka peluang bagi mahasiswa untuk melakukan riset mandiri tentang nilai-nilai budaya setempat. Dengan demikian, buku ajar ini tidak hanya menjadi sumber belajar, tetapi juga katalisator bagi mahasiswa untuk lebih mendalami dan mempraktikkan nilai-nilai wawasan kebangsaan di kehidupan sehari-hari.
Bagi para guru dan pelajar di seluruh Indonesia, mari kita jadikan buku ajar ini sebagai inspirasi untuk terus menggali dan mengaplikasikan nilai-nilai luhur bangsa dalam setiap aspek pembelajaran. Dengan memahami dan menghayati kearifan lokal Sumatera, kita tidak hanya memperkuat identitas budaya, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam bela negara melalui ilmu pengetahuan dan tindakan nyata.