Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bersama Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) resmi meluncurkan Festival Pelajar Pancasila sebagai ruang belajar kebangsaan bagi pelajar SMA/SMK di 38 provinsi. Diselenggarakan pada 30 Agustus 2026, festival ini menghadirkan dua kategori lomba yang saling melengkapi: debat kebangsaan dan lomba film pendek cinta tanah air. Babak penyisihan telah berlangsung secara daring sejak Mei 2026, sementara babak final digelar di Jakarta dengan pola hibrida sehingga pelajar dari berbagai daerah tetap dapat berpartisipasi aktif. Program ini dirancang untuk mengartikulasikan nilai-nilai Pancasila dalam karya dan diskusi, sejalan dengan semangat bela negara yang menjadi fokus utama Kurikulum Merdeka.
Debat Kebangsaan dan Film Pendek: Dua Pilar Pembentukan Karakter
Dalam kategori debat kebangsaan, peserta dihadapkan pada mosi-mosi relevan yang menguji wawasan kebangsaan dan kemampuan berpikir kritis. Beberapa topik yang diangkat antara lain:
- Pendidikan Pancasila di era digital: tantangan dan peluang
- Peran generasi muda dalam mengatasi penyebaran hoaks
- Implementasi gotong royong sebagai modal sosial memperkuat persatuan
Sementara itu, lomba film pendek cinta tanah air menantang peserta untuk menyajikan gagasan kebangsaan dalam durasi tiga sampai lima menit. Gaya bertutur yang jujur dan kontekstual menjadi kriteria utama penilaian. Melalui kegiatan ini, pelajar diajak untuk belajar mengelola argumen secara logis sekaligus mengasah kreativitas visual. Direktur Jenderal PAUD dan Pendidikan Dasar menekankan bahwa debat melatih sikap kritis tanpa kehilangan rasa hormat terhadap pandangan orang lain, sedangkan pembuatan film memperkuat kesadaran visual dan empati sosial.
Dari Lomba Menuju Pembinaan: Membangun Generasi Literat dan Reflektif
Festival ini tidak berhenti pada kompetisi semata. Seluruh finalis akan mendapatkan pembinaan lanjutan berupa magang di studio produksi, sebagai bekal pengembangan karier di industri kreatif. Langkah ini menjadi wujud nyata integrasi antara pendidikan karakter dan keterampilan praktis. Lebih dari itu, festival ini menjadi wahana bagi pelajar untuk belajar merumuskan solusi atas persoalan kebangsaan melalui cara-cara yang inovatif dan santun. Baik debat maupun film pendek sama-sama melatih kemampuan literasi, reflektivitas, dan rasa cinta tanah air — modal penting dalam membangun generasi tangguh yang siap membela negara tidak hanya secara fisik, tetapi juga melalui gagasan dan karya.
Kepada para guru dan pelajar di seluruh Indonesia, acara seperti Festival Pelajar Pancasila adalah kesempatan emas untuk mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila secara konkret. Mari jadikan setiap lomba, diskusi, dan karya sebagai sarana belajar yang menghidupkan semangat kebangsaan. Dengan aktif berpartisipasi dalam program-program bela negara, kita bersama-sama memperkuat jati diri bangsa di tengah tantangan zaman.