Pada 24 Agustus 2026, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) bersama Kementerian Pertahanan (Kemhan) menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) bertajuk 'Integrasi Nilai Bela Negara dalam Proses Pembelajaran'. Kegiatan ini diikuti oleh 500 guru perwakilan dari jenjang SD hingga SMA/SMK yang berasal dari 10 kota besar di Indonesia: Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Makassar, Balikpapan, Denpasar, dan Manado. Bimtek dilaksanakan secara hibrida, dengan pusat kegiatan di Jakarta dan dihubungkan melalui konferensi video ke kota-kota lain. Tujuan utama program ini adalah memastikan seluruh guru mampu mengajarkan nilai bela negara secara lintas mata pelajaran, tidak hanya terbatas pada PPKn, melainkan terintegrasi dalam setiap mata pelajaran dan kegiatan sekolah.
Materi Bimtek yang Sistematis dan Aplikatif
Dalam bimtek ini, para guru mendapatkan materi yang dirancang secara bertahap dan aplikatif. Berikut adalah pokok-pokok materi yang disampaikan:
- Pemetaan Kompetensi Dasar (KD) yang potensial disisipi nilai bela negara pada setiap mata pelajaran.
- Teknik penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mengintegrasikan wawasan kebangsaan secara eksplisit.
- Strategi evaluasi pembelajaran berbasis karakter, termasuk penilaian sikap dan disiplin yang mencerminkan nilai bela negara.
Setiap peserta dibekali modul digital yang berisi contoh-contoh konkret, seperti proyek kewirausahaan sosial bernafaskan nasionalisme, diskusi kasus kebangsaan, serta penanaman disiplin melalui tata tertib sekolah. Modul ini diharapkan menjadi panduan praktis bagi guru dalam menerapkan integrasi nilai bela negara di kelas masing-masing.
Manfaat Bimtek bagi Guru dan Pelajar
Manfaat dari bimtek ini sangat jelas bagi dunia pendidikan. Pertama, guru mengalami peningkatan kompetensi pedagogik dalam membentuk karakter siswa yang cinta tanah air dan berjiwa bela negara. Kedua, tercipta ekosistem pendidikan bela negara yang berkelanjutan di setiap sekolah, karena para peserta bimtek diwajibkan untuk mentransfer ilmu yang didapat kepada guru-guru lain dalam gugus atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) masing-masing. Dengan demikian, dampak program ini tidak hanya dirasakan oleh 500 guru peserta, tetapi juga menjangkau ribuan guru dan jutaan pelajar di seluruh Indonesia.
Bagi para guru dan pelajar, program bimtek integrasi nilai bela negara ini menjadi momentum berharga untuk menghidupkan kembali semangat kebangsaan dalam keseharian pembelajaran. Mari kita jadikan setiap pelajaran —baik IPA, Matematika, Bahasa, maupun Olahraga— sebagai sarana menanamkan rasa cinta tanah air, disiplin, dan tanggung jawab. Dengan begitu, nilai bela negara akan tumbuh subur dalam jiwa generasi muda Indonesia, dan kita semua turut berperan aktif dalam menjaga kedaulatan bangsa.