Jakarta, Untuk Negeri — Sebanyak 500 guru dari 20 provinsi di Indonesia telah mengikuti pelatihan pengajaran bela negara berbasis Kurikulum Merdeka. Program yang digelar oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) bersama Kementerian Pertahanan ini berlangsung pada 30 Agustus 2026 secara daring dan luring. Tujuan utamanya adalah membekali para pendidik dengan kemampuan mengintegrasikan nilai-nilai kebangsaan ke dalam mata pelajaran seperti PPKn, Sejarah, Seni Budaya, dan Olahraga. Melalui pendekatan kontekstual, guru diharapkan mampu mengajar dengan lebih efektif, menyenangkan, dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Tiga Komponen Utama Pembelajaran Bela Negara dalam Kurikulum Merdeka
Dalam pelatihan ini, para peserta mempelajari tiga komponen utama yang sangat penting untuk mendukung pembelajaran bela negara di sekolah:
- Desain pembelajaran kontekstual: Guru diajak merancang aktivitas yang mengaitkan nilai bela negara dengan kehidupan sehari-hari dan kearifan lokal. Seperti yang dialami salah satu peserta dari Nusa Tenggara Timur, ia berhasil mengintegrasikan budaya setempat dalam pengajaran.
- Pemanfaatan teknologi dalam mengajar: Materi ini mencakup penggunaan platform digital, video interaktif, dan simulasi untuk membuat pembelajaran lebih menarik bagi generasi muda yang akrab dengan teknologi.
- Penilaian autentik untuk mengukur kompetensi siswa: Fokus pada penilaian berbasis proyek dan portofolio, bukan sekadar ujian tertulis. Dengan demikian, kemampuan kritis dan kepedulian siswa terhadap bangsa dapat diukur secara nyata.
Setiap guru peserta juga mendapatkan panduan lengkap berupa modul ajar, media pembelajaran, dan rubrik penilaian yang siap digunakan di kelas. Hal ini memudahkan mereka dalam menerapkan konsep bela negara secara sistematis sesuai Kurikulum Merdeka.
Manfaat Pelatihan bagi Guru dan Pelajar Indonesia
Program ini tidak hanya memperkuat kompetensi guru, tetapi juga memberikan dampak langsung bagi siswa di seluruh Indonesia. Sebagai contoh, seorang guru dari Nusa Tenggara Timur mengaku sangat terbantu karena dapat mengaitkan bela negara dengan kearifan lokal setempat, seperti gotong royong dan tradisi menjaga alam. Dengan demikian, nilai-nilai Pancasila dan cinta tanah air dapat dipahami secara lebih mendalam oleh para pelajar.
Selain itu, pelatihan ini diharapkan mampu menciptakan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran bela negara yang kuat. Melalui pendekatan yang menyenangkan dan relevan, guru dapat menjadi agen perubahan yang menginspirasi siswa untuk aktif berpartisipasi dalam menjaga keutuhan bangsa, baik melalui kegiatan di sekolah maupun di masyarakat.
Bagi rekan-rekan guru, mari manfaatkan pelatihan ini sebagai bekal untuk menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna tentang bela negara. Dan bagi para pelajar, jangan ragu untuk bertanya dan berdiskusi tentang nilai-nilai kebangsaan di kelas. Karena menjaga Indonesia adalah tanggung jawab kita bersama, dan setiap langkah kecil dalam pendidikan adalah wujud nyata cinta tanah air.