Dalam upaya menanamkan nilai-nilai kebangsaan melalui evaluasi pendidikan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Pusat Asesmen dan Pembelajaran baru-baru ini menyelenggarakan sebuah Workshop Nasional. Kegiatan strategis ini bertujuan melibatkan para guru dan ahli evaluasi pendidikan dalam menyusun butir soal Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) yang bertemakan wawasan kebangsaan. Melalui pendekatan ini, Kemendikbudristek berkomitmen untuk tidak hanya mengukur kemampuan akademik, tetapi juga memetakan pemahaman dan internalisasi nilai-nilai cinta tanah air, Pancasila, serta kesadaran berbangsa dan bernegara di kalangan peserta didik secara nasional.
Mengapa AKM Bertema Kebangsaan Penting untuk Pendidikan Karakter?
Pendidikan bela negara tidak hanya tentang pelajaran teori di kelas, tetapi juga tentang bagaimana menanamkan nilai-nilai tersebut dalam setiap aspek pembelajaran, termasuk evaluasi. Asesmen berbasis tema kebangsaan ini menjadi instrumen penting karena mampu mengukur sejauh mana siswa memahami dan dapat menalar isu-isu kebangsaan dalam konteks kehidupan sehari-hari. Soal-soal AKM tematik ini dirancang untuk menguji literasi membaca dan numerasi dengan stimulus yang sarat muatan seperti sejarah perjuangan bangsa, nilai-nilai Pancasila, geostrategi Indonesia, serta hak dan kewajiban warga negara. Dengan demikian, hasil asesmen tidak sekadar angka, tetapi juga gambaran konkret tentang kesehatan 'literasi kebangsaan' generasi muda Indonesia.
Tahapan Sistematis dalam Workshop Penyusunan Soal
Workshop ini diikuti oleh 300 peserta yang mewakili 34 provinsi, yang kelak akan berperan sebagai penyusun dan penelaah soal AKM level nasional. Agar soal yang dihasilkan berkualitas dan tepat sasaran, proses penyusunan diajarkan secara bertahap dan sistematis kepada para peserta workshop, terutama para guru. Metodologi tersebut meliputi:
- Tahap 1: Identifikasi Kompetensi - Peserta diajak untuk menelusuri Capaian Pembelajaran (CP) yang relevan dengan nilai-nilai kebangsaan, seperti kejujuran, tanggung jawab, cinta tanah air, dan semangat gotong royong.
- Tahap 2: Merancang Stimulus Kontekstual - Pada tahap ini, peserta belajar merancang bahan bacaan atau data (seperti puisi, pidato bersejarah, artikel, tabel, atau infografis) yang kaya akan muatan kebangsaan sebagai landasan pertanyaan.
- Tahap 3: Merumuskan Pertanyaan Bermakna - Tahap terakhir adalah menyusun pertanyaan yang tidak hanya menanyakan fakta, tetapi juga mendorong siswa untuk menalar, mengevaluasi, dan merefleksikan nilai-nilai yang terkandung dalam stimulus tersebut.
Pendekatan bertahap ini memastikan bahwa setiap butir soal AKM yang dihasilkan benar-benar menguji kompetensi mendalam sekaligus menguatkan karakter kebangsaan siswa.
Manfaat dari inisiatif monumental ini sangat luas. Pertama, terciptalah alat ukur standar nasional untuk memetakan pemahaman wawasan kebangsaan siswa. Data yang dihasilkan dari AKM tematik ini akan menjadi dasar evaluasi yang berharga bagi sekolah dan pemerintah dalam menyusun dan memperbaiki program pendidikan karakter dan bela negara. Kedua, bagi para guru, workshop ini merupakan peningkatan kapasitas profesional yang signifikan. Mereka tidak hanya menjadi lebih terampil dalam merancang asesmen, tetapi juga mendapatkan perspektif baru tentang bagaimana mengintegrasikan nilai kebangsaan ke dalam proses penilaian pembelajaran sehari-hari.
Sebagai penutup, inisiatif Kemendikbudristek ini mengajak kita semua, terutama para guru dan pelajar, untuk melihat evaluasi pendidikan bukan sebagai akhir, tetapi sebagai bagian dari proses pembentukan karakter bangsa. Bagi guru, mari terus kembangkan kemampuan menyusun penilaian yang bermakna dan kontekstual. Bagi pelajar, persiapkan diri untuk tidak hanya menjawab soal, tetapi juga merefleksikan nilai-nilai luhur bangsa dalam setiap stimulus yang diberikan. Dengan sinergi ini, pendidikan bela negara akan semakin mengakar kuat dalam jiwa setiap insan pendidikan Indonesia.