Dalam upaya sistematis mengimplementasikan pendidikan bela negara di tingkat masyarakat, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Sleman menyelenggarakan program Latihan Dasar Bela Negara di Balai Kalurahan Donoharjo, Ngaglik. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 13-15 April 2026, ini melibatkan 60 perwakilan dari berbagai elemen masyarakat. Esensi program ini adalah mentransformasi pemahaman patriotisme dari ranah teoritis ke ranah aksi nyata, khususnya dalam merespons tantangan polarisasi dan arus informasi di era transformasi digital.
Membangun Pondasi Ideologi dan Kecakapan Digital dalam Satu Rangka
Program pelatihan ini dirancang dengan pendekatan edukatif yang mengintegrasikan dua pilar utama. Pertama, penguatan fondasi ideologi kebangsaan dan patriotisme. Kedua, pengembangan kecakapan berpikir kritis dan berperilaku positif di ruang digital. Narasumber dari Pusat Pengembangan Bela Negara UPN Veteran Yogyakarta, Hari Kusuma Satria Negara, menegaskan bahwa aktualisasi bela negara adalah panggilan moral setiap warga. Ini berarti peserta didorong untuk menjadi agen perubahan yang aktif, bukan sekadar penerima informasi pasif. Materi pelatihan mencakup:
- Aktualisasi nilai-nilai kebangsaan dalam konteks perkembangan teknologi informasi.
- Strategi menjadi penyaring informasi dan penyebar konten positif di media sosial.
- Pemahaman tentang peran individu sebagai bagian dari ketahanan nasional di dunia maya.
Memahami Sistem Pertahanan Semesta: Dari Teori ke Peran Konkret Masyarakat
Sesi pembelajaran lain yang krusial adalah pembekalan mengenai sistem pertahanan negara berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002. Danramil Ngaglik, M. Mustofa, memberikan penjelasan mendalam bahwa Indonesia menganut Sistem Pertahanan Semesta (Sishanta). Konsep ini menekankan bahwa ketahanan dan kedaulatan negara bukan hanya tanggung jawab komponen utama (TNI), tetapi juga seluruh rakyat Indonesia sebagai kekuatan pendukung strategis. Pemahaman ini sangat relevan dengan konteks latihan dasar bela negara, karena mendefinisikan peran setiap warga, termasuk guru dan pelajar, dalam lingkup pertahanan non-militer. Peran tersebut dapat diwujudkan melalui:
- Kesadaran menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
- Kemampuan mencegah penyebaran hoaks dan konten radikal yang dapat memecah belah.
- Partisipasi aktif dalam pembangunan karakter bangsa yang berlandaskan Pancasila.
Program Latihan Dasar Bela Negara di Sleman ini menawarkan model pembelajaran yang dapat diadaptasi dalam lingkungan pendidikan formal. Bagi guru, inisiatif semacam ini memberikan perspektif praktis untuk mengintegrasikan materi patriotisme dan ketahanan ideologi ke dalam kurikulum pembelajaran, baik secara langsung maupun melalui proyek literasi digital. Bagi pelajar, kegiatan ini menginspirasi bahwa bela negara dapat dimulai dari hal-hal sederhana dan dekat, seperti menjadi netizen yang cerdas, bertanggung jawab, dan promotor perdamaian di ruang digital. Mari bersama-sama kita jadikan semangat bela negara bukan sekadar wacana, tetapi menjadi nilai hidup yang terinternalisasi dan terpraktikkan dalam keseharian, demi menjaga keutuhan dan masa depan Untuk Negeri.