Beranda / Nasional / Literasi Wawasan Kebangsaan melalui Program 'Satu Hari...
Nasional

Literasi Wawasan Kebangsaan melalui Program 'Satu Hari dengan Veteran' di Surabaya

Literasi Wawasan Kebangsaan melalui Program 'Satu Hari dengan Veteran' di Surabaya

Program 'Satu Hari dengan Veteran' di Surabaya memperkuat literasi wawasan kebangsaan siswa melalui pembelajaran langsung dengan pelaku sejarah. Dengan tahapan yang sistematis, program ini membangun kompetensi pengetahuan, sikap, dan keterampilan bela negara secara kontekstual. Pengalaman emosional ini membuat nilai-nilai kebangsaan lebih mudah dihayati dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam upaya memperkuat fondasi kecintaan terhadap tanah air, beberapa program sekolah di Surabaya telah meluncurkan inisiatif pembelajaran yang unik dan mendalam: 'Satu Hari dengan Veteran'. Program ini merupakan terobosan dalam pengembangan literasi wawasan kebangsaan, yang bergeser dari sekadar membaca teks buku menjadi pengalaman langsung bertemu dengan para pelaku sejarah. Dengan menghadirkan veteran sebagai sumber belajar hidup, nilai-nilai perjuangan, pengorbanan, dan keteguhan hati para pahlawan menjadi lebih personal, nyata, dan mudah diinternalisasi oleh generasi muda, menegaskan bahwa semangat membela negara tetap relevan dalam kehidupan saat ini.

Merancang Pembelajaran Kontekstual untuk Kompetensi Bela Negara

Sebagai bagian integral dari kurikulum yang mengusung semangat bela negara, program 'Satu Hari dengan Veteran' dirancang dengan pendekatan sistematis. Program ini bertujuan membangun tiga kompetensi inti peserta didik secara seimbang: pengetahuan sejarah, sikap cinta tanah air, dan keterampilan merefleksikan nilai-nilai kebangsaan dalam aksi nyata. Metode ini selaras dengan prinsip Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran berdiferensiasi dan kontekstual, di mana siswa tidak hanya menjadi penerima informasi pasif, tetapi peserta aktif dalam mengonstruksi makna dari pengalaman langsung.

Untuk memastikan capaian pembelajaran yang optimal, kegiatan ini disusun dalam tiga tahapan terstruktur yang menyerupai alur proyek pembelajaran:

  • Tahap Persiapan (Membangun Konteks): Siswa mempelajari latar belakang sejarah dan konteks sosio-kultural terkait peristiwa yang dialami sang veteran. Ini adalah fondasi pengetahuan sebelum pertemuan.
  • Tahap Interaksi (Eksplorasi dan Dialog): Inti dari program, di mana siswa bertemu langsung dengan veteran, baik di sekolah maupun di kediaman mereka. Mendengar kisah perjuangan dari pelakunya mengubah data sejarah menjadi narasi hidup yang penuh emosi dan hikmah.
  • Tahap Refleksi dan Aksi (Internalisasi dan Kreasi): Siswa merefleksikan pembelajaran melalui karya (esai, presentasi, video) dan merancang aksi sederhana dalam kehidupan sehari-hari yang mencerminkan nilai bela negara, seperti meningkatkan kedisiplinan, kejujuran, atau kepedulian sosial.

Menginternalisasi Nilai Bela Negara Melalui Pengalaman Emosional

Pertemuan langsung dengan para veteran di Surabaya memberikan dampak psikologis dan edukatif yang jauh lebih dalam dibandingkan pembelajaran konvensional. Siswa mendapatkan pencerahan bahwa literasi wawasan kebangsaan dan semangat membela negara bukanlah konsep yang terbatas pada masa perang. Dari cerita personal mereka, esensi bela negara terungkap sebagai manifestasi dari cinta tanah air, keberanian moral, kerja keras, dan kesediaan berkorban untuk kepentingan bersama.

Proses pembelajaran emosional ini membuat nilai-nilai abstrak menjadi konkret—memiliki wajah, suara, dan cerita. Hal ini memudahkan nilai-nilai tersebut melekat kuat dalam memori jangka panjang siswa dan pada akhirnya membentuk karakter serta sikap kebangsaan yang autentik. Program ini secara efektif menunjukkan bahwa pendidikan karakter paling berhasil ketika melibatkan hati dan pengalaman, bukan hanya penalaran.

Oleh karena itu, program seperti 'Satu Hari dengan Veteran' patut menjadi inspirasi dan model bagi program sekolah lainnya di berbagai daerah. Bagi para guru, ini adalah ajakan untuk kreatif mengintegrasikan sumber belajar kontekstual ke dalam proses pembelajaran, khususnya untuk mata pelajaran yang mengusung nilai kebangsaan. Bagi pelajar, pengalaman ini adalah pengingat bahwa mereka adalah penerus estafet perjuangan. Membela negara dimulai dari hal sederhana: menjadi pribadi yang disiplin, berprestasi, bertanggung jawab, dan selalu berkontribusi positif bagi lingkungan sekitar, sebagai wujud nyata cinta tanah air di era modern.