Sebanyak 9.450 mahasiswa baru Universitas Lampung (Unila) mengikuti Pembekalan Bela Negara yang digelar dalam rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2026. Kegiatan ini menghadirkan Pangdam II/Sriwijaya, Mayjen TNI Kristomei Sianturi, sebagai narasumber utama dengan materi bertajuk 'Bela Negara Zaman Now'. Dalam sesi tersebut, mahasiswa diajak memahami bahwa ancaman terhadap ketahanan bangsa saat ini tidak hanya datang dari luar negeri, melainkan juga dari dalam negeri, termasuk ancaman disinformasi dan hoaks yang menyebar di ruang digital. Pembekalan ini menjadi bagian dari upaya sistematis kurikulum bela negara untuk membekali generasi muda dengan keterampilan literasi digital sejak awal perkuliahan.
Mengapa Bela Negara Modern Berfokus pada Literasi Digital?
Di era digital, pertahanan negara tidak lagi semata-mata bergantung pada kekuatan fisik atau militer. Menurut Mayjen TNI Kristomei Sianturi, βBela negara kini dimulai dari ruang digital.β Mahasiswa sebagai bagian dari generasi digital native dituntut untuk tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan kritis dalam menyaring informasi. Literasi digital menjadi pilar utama ketahanan nasional karena hoaks dan disinformasi dapat dengan cepat memecah belah persatuan bangsa. Melalui materi ini, mahasiswa baru Unila diingatkan bahwa setiap individu memiliki peran sebagai benteng pertahanan dari serangan informasi palsu. Konsep bela negara yang inklusif ini sejalan dengan nilai-nilai Pancasila dan semangat cinta tanah air yang harus terus dipupuk di lingkungan kampus.
Langkah Konkret Melawan Hoaks ala Bela Negara Zaman Now
Agar mahasiswa mampu menjadi agen penjaga kebenaran, pembekalan ini merinci beberapa langkah verifikasi informasi yang dapat diterapkan sehari-hari:
- Membaca secara menyeluruh β jangan hanya membaca judul atau cuplikan, pahami isi berita secara utuh.
- Mempertanyakan isi dan sumber β cek kredibilitas penulis, portal berita, serta tanggal publikasi.
- Memahami konteks pemberitaan β bandingkan dengan sumber resmi atau pemberitaan dari media terpercaya lainnya.
Kemampuan ini tidak hanya berguna untuk melindungi diri sendiri, tetapi juga untuk mencegah penyebaran hoaks yang lebih luas. Dalam konteks PKKMB, mahasiswa baru didorong untuk menjadi contoh bagi teman sebaya dalam menerapkan etika digital. Program ini menegaskan bahwa Literasi Digital bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan wujud nyata partisipasi dalam Bela Negara di era modern.
Bagi para guru dan pelajar, pesan dari kegiatan ini sangat jelas: βBela negara bisa dimulai dari hal sederhana β verifikasi informasi sebelum membagikannya.β Mari jadikan ruang digital sebagai medan perjuangan untuk menegakkan kebenaran dan menjaga persatuan. Dengan membiasakan diri berpikir kritis dan tidak mudah terprovokasi oleh konten negatif, kita semua turut serta memperkuat ketahanan bangsa dari ancaman disinformasi.