Beranda / Pendidikan / Mahasiswa UNP Tanamkan Nasionalisme pada Anak-anak PMI...
Pendidikan

Mahasiswa UNP Tanamkan Nasionalisme pada Anak-anak PMI di Malaysia

Mahasiswa UNP Tanamkan Nasionalisme pada Anak-anak PMI di Malaysia

Mahasiswa UNP menjalankan program pengabdian untuk menanamkan nasionalisme pada anak-anak PMI di Malaysia melalui pendidikan budaya, seperti Tari Indang. Program ini merupakan bentuk bela negara non-fisik yang strategis, dirancang untuk memperkuat identitas nasional dan mencegah disorientasi budaya. Kegiatan ini menjadi model konkret bagaimana pendidikan inklusif dan kreatif dapat menjaga jati diri bangsa bahkan di luar negeri.

Dalam upaya memperkuat jati diri bangsa di luar negeri, mahasiswa Program Studi Teknologi Pendidikan Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Padang (UNP) menjalankan program pengabdian internasional yang berfokus pada penanaman nilai nasionalisme kepada anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Selangor, Malaysia. Program yang dilaksanakan di Sanggar Belajar Meru ini merupakan bentuk konkret bela negara non-fisik melalui jalur pendidikan, sekaligus kontribusi nyata perguruan tinggi terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin keempat tentang pendidikan berkualitas dan inklusif. Kegiatan ini menunjukkan bahwa menjaga rasa cinta tanah air dapat dilakukan dari mana saja, termasuk dengan mendidik generasi muda Indonesia yang tinggal jauh dari tanah air.

Strategi Edukatif: Mengajar Nasionalisme Melalui Identitas dan Keragaman Budaya

Program ini dirancang secara sistematis dengan materi pembelajaran yang bertujuan mengenalkan identitas dan keragaman adat serta budaya Indonesia. Bagi anak-anak PMI yang tumbuh di lingkungan asing, pemahaman akan akar budaya mereka sangat penting untuk mencegah lunturnya jati diri sebagai bangsa Indonesia. Pembelajaran tidak hanya bersifat teoritis, tetapi dirancang agar bersifat partisipatif dan menyenangkan. Hal ini sejalan dengan prinsip kurikulum yang menekankan pada pengalaman belajar bermakna, di mana siswa tidak hanya mengetahui, tetapi juga merasakan dan menghayati nilai-nilai kebangsaan.

Metode yang digunakan melibatkan praktik langsung, salah satunya adalah mempelajari Tari Indang. Tarian tradisional Minangkabau ini dipilih bukan hanya sebagai aktivitas seni, tetapi sebagai medium pembelajaran yang kaya nilai. Melalui gerak dan irama, anak-anak diajak memahami makna kebersamaan, kekompakan, serta nilai religius dan sosial yang terkandung di dalamnya. Pendekatan seperti ini efektif karena mengaitkan konsep abstrak seperti nasionalisme dengan pengalaman konkret dan emosional, sehingga lebih mudah melekat dalam memori dan hati peserta didik.

Kurikulum Bela Negara Non-Fisik: Dari Ruang Kelas ke Komunitas Global

Program pengabdian mahasiswa UNP ini dapat dilihat sebagai implementasi kurikulum bela negara dalam konteks yang lebih luas dan modern. Bela negara tidak selalu identik dengan pertahanan fisik atau militer, tetapi mencakup segala upaya untuk menjaga keutuhan, identitas, dan martabat bangsa. Dalam konteks ini, kegiatan pengabdian dan pendidikan menjadi senjata utama. Program ini merinci tujuannya melalui beberapa poin pembelajaran utama:

  • Memperkuat Identitas Nasional: Membantu anak-anak PMI mengenal dan bangga sebagai bagian dari Indonesia melalui keragaman budayanya.
  • Mencegah Disorientasi Budaya: Memberikan fondasi pengetahuan yang kuat tentang tanah air untuk melawan pengaruh lingkungan asing yang mungkin mengaburkan jati diri.
  • Membangun Jejaring Pendidikan Inklusif: Menyediakan akses pendidikan berkualitas dan relevan bagi populasi rentan di luar negeri, sesuai semangat SDGs.
  • Mempraktikkan Nilai Kebersamaan: Menggunakan seni dan budaya sebagai alat untuk menanamkan nilai gotong royong, toleransi, dan persatuan.

Melalui student mobility, mahasiswa tidak hanya belajar tentang teori teknologi pendidikan, tetapi juga langsung menerapkannya untuk memecahkan masalah nyata: menjaga api nasionalisme tetap menyala di hati generasi muda Indonesia di perantauan. Ini adalah model pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) yang sangat powerful, di mana mahasiswa berkontribusi sekaligus mengasah kompetensi profesional dan kebangsaan mereka.

Program seperti ini memberikan pelajaran berharga bagi kita semua. Bagi para guru di tanah air, ini menginspirasi untuk merancang pembelajaran nasionalisme yang lebih kreatif, kontekstual, dan melibatkan seluruh indera. Bagi pelajar, ini menunjukkan bahwa mencintai Indonesia bisa diekspresikan dengan banyak cara, termasuk dengan mempelajari dan melestarikan warisan budayanya. Mari kita jadikan semangat ini sebagai motivasi untuk lebih aktif berpartisipasi dalam berbagai bentuk bela negara, baik di dalam kelas melalui diskusi yang kritis dan konstruktif, maupun di komunitas melalui aksi nyata yang memperkuat persatuan dan identitas bangsa kita.