Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat karakter bangsa melalui penyelenggaraan Latihan Kader Bela Negara. Kegiatan yang berlangsung di Rindam XIII/Merdeka, Tomohon, Sulawesi Utara, pada 29 September hingga 1 Oktober 2026 ini diikuti oleh 310 peserta yang berasal dari aparatur sipil negara, buruh, dan swasta. Program ini menjadi wujud nyata bahwa semangat membela tanah air tidak melulu identik dengan pendidikan militer, melainkan proses internalisasi nilai kebangsaan yang relevan bagi seluruh elemen masyarakat.
Bukan Pendidikan Militer, Melainkan Penanaman Nilai Kebangsaan
Latihan Kader Bela Negara ini dirancang sebagai proses internalisasi nilai-nilai bela negara yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Peserta tidak diajak untuk berlatih fisik ala militer, melainkan dibekali pemahaman konseptual dan praktis mengenai bagaimana menjadi warga negara yang sadar akan hak dan kewajibannya. Dengan pendekatan ini, Kemhan ingin memastikan bahwa setiap peserta mampu menjadi teladan dalam menjaga keutuhan NKRI di lingkungan masing-masing. Adapun nilai-nilai dasar yang ditekankan dalam pelatihan ini meliputi:
- Cinta tanah air yang diwujudkan melalui kepedulian terhadap lingkungan sosial dan semangat gotong royong.
- Kesetiaan pada Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa.
- Kesadaran berbangsa dan bernegara, termasuk memahami sejarah perjuangan dan konstitusi.
- Kerja sama tim dan kemampuan bermusyawarah untuk menyelesaikan persoalan bersama.
Menjadi Duta Bela Negara di Lingkungan Sekitar
Setelah mengikuti rangkaian pelatihan selama tiga hari, setiap peserta akan memperoleh sertifikat resmi sebagai bukti keikutsertaan. Namun yang lebih penting, mereka diharapkan mampu berperan sebagai duta bela negara yang menyosialisasikan nilai-nilai kebangsaan kepada rekan kerja, keluarga, dan masyarakat sekitar. Peran fasilitator ini sangat strategis untuk memperluas dampak program, terutama dalam membangun kesadaran kolektif bahwa membela negara dapat dilakukan dengan cara sederhana, seperti disiplin, toleransi, dan produktif dalam bekerja. Dengan begitu, penguatan karakter bangsa tidak hanya menjadi tanggung jawab aparat, melainkan gerakan bersama dari tingkat komunitas.
Bagi para guru dan pelajar, program ini memberikan pelajaran berharga bahwa kurikulum bela negara dapat diintegrasikan dalam aktivitas keseharian di sekolah. Melalui pembelajaran yang mengedepankan cinta tanah air, gotong royong, dan semangat kebangsaan, nilai-nilai tersebut akan tertanam kuat pada generasi muda. Mari jadikan momen ini sebagai pengingat bahwa setiap warga negara, termasuk pelajar, dapat berkontribusi menjaga keutuhan bangsa. Aktiflah dalam kegiatan positif, pelajari sejarah dengan sungguh-sungguh, dan terapkan nilai-nilai Pancasila dalam setiap tindakan kita.