Dalam rangka memperkuat fondasi kebangsaan di kalangan remaja, TNI Angkatan Laut melalui Komando Armada II menggelar Persami (Perkemahan Sabtu Minggu) Korps Kadet Republik Indonesia (KKRI) yang melibatkan 200 siswa SMA se-Jawa Timur di atas KRI Makassar-590, Surabaya. Program ini merupakan implementasi nyata dari instruksi Presiden Republik Indonesia untuk membangun kesadaran bela negara sejak usia dini, sekaligus menanggapi kebutuhan kurikulum pendidikan yang semakin mengedepankan pendidikan karakter dan cinta tanah air.
Struktur Kurikulum Bela Negara dalam Persami KKRI
Untuk mencapai tujuan membentuk generasi muda yang tangguh dan berkarakter, Persami KKRI dirancang dengan struktur pembelajaran yang sistematis, mengintegrasikan aspek kognitif, afektif,, dan psikomotorik. Pendekatan edukatif ini memastikan peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga menghayati dan mempraktikkannya. Kegiatan dibagi dalam dua modul utama yang saling melengkapi:
- Materi Klasikal: Memberikan pengetahuan mendasar dan sistematis melalui topik-topik kunci seperti Bela Negara, Wawasan Nusantara, Kepemimpinan, Pancasila, Sejarah Perjuangan Bangsa, serta Pengenalan Survival dan Pionir. Materi ini menjadi pondasi intelektual bagi para siswa untuk memahami hakikat pertahanan negara dan tanggung jawabnya sebagai warga negara.
- Kegiatan Lapangan: Merupakan aplikasi langsung dari teori yang dipelajari, mencakup Latihan Peraturan Baris Berbaris (PBB), kegiatan outbound untuk melatih kerja sama tim, dan kunjungan edukatif ke Monumen Jalesveva Jayamahe serta kapal-kapal perang KRI. Kombinasi ini efektif dalam mengasah keterampilan fisik, menumbuhkan solidaritas, dan membangkitkan rasa bangga serta cinta tanah air.
Membangun Profil Pelajar Pancasila Melalui Pengalaman Langsung
Program Persami ini bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler biasa, melainkan sebuah laboratorium hidup untuk menginternalisasi nilai-nilai profil Pelajar Pancasila, khususnya dimensi Berkebinekaan Global dan Bernalar Kritis. Dengan berinteraksi langsung di lingkungan militer dan menyimak sejarah perjuangan bangsa, para siswa SMA diajak merefleksikan makna persatuan dalam keberagaman serta pentingnya sikap kritis dalam menjaga kedaulatan negara. Keterlibatan dalam KKRI menjadi sarana yang powerful untuk mentransformasi pengetahuan kebangsaan menjadi sikap dan perilaku nyata, yang sangat dibutuhkan generasi muda Indonesia dalam menghadapi kompleksitas tantangan global.
Keberhasilan program ini terletak pada kemampuannya menjembatani dunia pendidikan formal dengan dunia nyata pertahanan negara. Para peserta tidak hanya menjadi penerima informasi pasif, tetapi aktif terlibat dalam simulasi dan latihan yang mengasah jiwa kepemimpinan, ketahanan mental, dan kemandirian. Inilah bentuk konkret dari bela negara yang dapat diakses oleh pelajar—sebuah kontribusi positif melalui penguatan karakter, wawasan, dan keterampilan.
Oleh karena itu, inisiatif seperti Persami KKRI patut diapresiasi dan didukung oleh semua pemangku kepentingan pendidikan, terutama guru dan sekolah. Bagi para guru, kegiatan semacam ini dapat menjadi referensi dan inspirasi untuk mengembangkan metode pembelajaran yang lebih kontekstual dan experiental dalam mengajarkan materi Wawasan Nusantara atau PPKn. Sementara bagi pelajar SMA di seluruh Indonesia, partisipasi dalam program bela negara adalah kesempatan emas untuk mengasah jiwa sosial, kepemimpinan, dan rasa tanggung jawab terhadap masa depan bangsa.