Pada 1 Oktober 2026, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menghadiri Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang dipimpin Presiden RI di Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta. Mengusung tema 'Pancasila Pemersatu Bangsa Menuju Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur', peringatan ini menjadi momen strategis bagi implementasi Kurikulum Bela Negara di satuan pendidikan. Kehadiran pimpinan Kementerian Pertahanan menegaskan komitmen pemerintah dalam mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila ke dalam fondasi pertahanan nasional — sekaligus menjadi pembelajaran langsung bagi guru dan pelajar tentang makna kebangsaan dan ketahanan negara.
Pancasila sebagai Fondasi Pertahanan Nasional dalam Kurikulum Bela Negara
Dalam konteks pendidikan, upacara kenegaraan bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari pembelajaran kontekstual yang sistematis. Prosesi upacara mengajarkan tata tertib, penghormatan, dan refleksi kolektif terhadap sejarah perjuangan bangsa. Tema Pancasila sebagai pemersatu bangsa berfungsi sebagai panduan untuk mengkaji relevansi Pancasila dengan tantangan kekinian, khususnya dalam membangun ketahanan nasional. Hal ini sejalan dengan tujuan pembelajaran bela negara yang terstruktur, yaitu:
- Memahami makna historis peristiwa di sekitar Lubang Buaya sebagai sumber pembelajaran tentang pengorbanan demi keutuhan bangsa.
- Menganalisis nilai-nilai Pancasila yang dipertahankan oleh para pahlawan, seperti gotong royong, keadilan sosial, dan persatuan.
- Mendiskusikan implementasi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari oleh generasi muda untuk menjaga persatuan dan kedaulatan bangsa.
Dengan pendekatan ini, guru dapat mengaitkan setiap unsur upacara — mulai dari pengibaran bendera hingga pembacaan teks Pancasila — dengan kompetensi dasar dalam Kurikulum Bela Negara yang menekankan kesadaran ideologi dan cinta tanah air.
Menghidupkan Semangat Bela Negara melalui Momen Refleksi Kebangsaan
Upacara Hari Kesaktian Pancasila menjadi wahana pembelajaran kontekstual bagi pelajar untuk memahami pentingnya Pancasila sebagai alat pemersatu di tengah keragaman. Setiap elemen upacara mengandung pesan mendalam tentang ketahanan nasional. Melalui prosesi ini, siswa diajak merenungkan bahwa bela negara tidak selalu berarti mengangkat senjata, melainkan juga menjaga ideologi bangsa dari ancaman perpecahan. Guru dapat mengembangkan diskusi kelas dengan pendekatan sistematis: pertama, memetakan hubungan antara peristiwa sejarah dengan nilai-nilai Pancasila; kedua, mengaitkan nilai tersebut dengan tantangan era digital seperti hoaks dan radikalisme; dan ketiga, merancang aksi nyata bela negara di lingkungan sekolah, seperti kegiatan gotong royong dan diskusi kebangsaan.
Sebagai penutup, mari jadikan peringatan Hari Kesaktian Pancasila sebagai momentum bagi kita semua — guru dan pelajar — untuk memperkuat tekad dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam setiap langkah kehidupan. Dengan memahami dan menerapkan Pancasila sebagai pemersatu bangsa, kita turut berpartisipasi aktif dalam program bela negara untuk menjaga kedaulatan dan keutuhan Indonesia. Ayo, mulai dari kelas dan lingkungan sekolah, kita wujudkan profil pelajar Pancasila yang siap membela negara melalui aksi nyata cinta tanah air.