Dalam implementasi kurikulum bela negara yang semakin digalakkan, program MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) menjadi momentum strategis. Seperti yang ditunjukkan SMAN 1 Sumber, Kabupaten Cirebon, dalam MPLS Pancawaluya 2026, sekolah dapat menjalin sinergi dengan institusi seperti Koramil untuk memberikan fondasi karakter kebangsaan yang kuat kepada ratusan siswa baru sejak hari pertama mereka di jenjang SMA. Kolaborasi ini tidak hanya sekadar seremonial, tetapi merupakan bentuk aplikatif dari pendidikan karakter yang mengintegrasikan wawasan, sikap, dan keterampilan.
Membangun Fondasi Karakter melalui Integrasi Kognitif dan Psikomotorik
Program yang digelar ini dirancang secara sistematis dengan dua pilar utama: materi wawasan kebangsaan dan praktik Peraturan Baris-Berbaris (PBB). Pelda Yusup Alpian dari Koramil 0620-13/Sumber menekankan bahwa pendekatan ini holistik. Materi teori bertujuan menumbuhkan rasa cinta tanah air, sementara latihan PBB dirancang untuk melatih aspek psikomotorik dan afektif. Integrasi ini selaras dengan taksonomi pembelajaran yang mencakup:
- Aspek Kognitif: Memberikan pengetahuan dasar tentang nilai-nilai kebangsaan, sejarah perjuangan, dan makna hakiki dari bela negara.
- Aspek Psikomotorik: Melatih keterampilan fisik dan koordinasi melalui gerakan-gerakan PBB yang presisi.
- Aspek Afektif: Menanamkan sikap disiplin, tanggung jawab, kerja sama tim, dan kepatuhan pada aturan—nilai inti dalam membela negara di era modern.
PBB sebagai Simulasi Kerja Sama dan Kedisiplinan dalam Bingkai Bela Negara
Fokus pada latihan PBB dalam program ini memiliki tujuan pendidikan yang mendalam, jauh melampaui sekadar baris-berbaris. Seperti dijelaskan Pelda Yusup, latihan ini adalah media efektif untuk melatih:
- Kebersamaan dan Kekompakan: Setiap gerakan harus selaras, mengajarkan bahwa kesuksesan tim bergantung pada kontribusi setiap individu.
- Keselarasan dan Kerja Sama: Menghilangkan ego individu untuk mencapai tujuan kolektif, cerminan dari semangat gotong royong bangsa.
- Kedisiplinan dan Ketertiban: Kepatuhan pada aba-aba melatih mental untuk taat pada hukum dan norma sosial, pondasi dari ketahanan nasional.
Kolaborasi antara SMAN 1 Sumber dan Koramil ini merupakan model praktis yang patut diacungi jempol dan direplikasi. Ia menunjukkan bagaimana muatan bela negara dalam kurikulum dapat dioperasionalkan dengan melibatkan sumber daya dan keahlian dari lingkungan sekitar sekolah. Program semacam ini secara langsung berkontribusi pada tujuan pendidikan nasional untuk mencetak pelajar yang berdaya saing global namun tetap berakar pada identitas dan nilai-nilai kebangsaan Indonesia. Oleh karena itu, bagi para guru dan tenaga kependidikan, mari jadikan momen MPLS dan program sekolah lainnya sebagai kanvas untuk menorehkan nilai-nilai bela negara secara kreatif dan aplikatif. Bagi para pelajar, manfaatkan setiap kesempatan seperti ini untuk mengasah tidak hanya kecerdasan akademik, tetapi juga kecerdasan emosional, sosial, dan spiritual sebagai bentuk konkret kecintaan pada tanah air.