Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kembali memperkuat implementasi Kurikulum Bela Negara melalui program strategis Pelatihan Guru Penggerak Bela Negara di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Pelatihan yang diselenggarakan pada 26 April 2026 ini merupakan langkah sistematis untuk mengoptimalkan peran pendidik sebagai motor utama dalam menumbuhkan karakter kebangsaan pada generasi muda. Fokus utamanya adalah transformasi konsep bela negara yang sering dianggap abstrak menjadi pengalaman belajar yang hidup, kontekstual, dan menyentuh kehidupan sehari-hari siswa di wilayah Lombok dan sekitarnya.
Membangun Karakter Kebangsaan Berbasis Kearifan Lokal Lombok
Pelatihan ini dirancang dengan pendekatan edukatif yang tidak hanya memberikan teori, tetapi membekali para guru penggerak dengan metodologi pembelajaran inovatif yang berakar pada kearifan lokal. Para peserta dilatih untuk merancang aktivitas belajar yang mengintegrasikan:
- Storytelling sejarah lokal: Mengangkat kisah pahlawan dan perlawanan raja lokal Lombok melawan penjajah untuk menumbuhkan semangat nasionalisme.
- Permainan tradisional: Memanfaatkan permainan daerah yang mengandung nilai gotong royong, solidaritas, dan patriotisme.
- Proyek kolaborasi antarsekolah: Merancang kegiatan bersama yang mengangkat kekayaan budaya Nusantara, khususnya warisan budaya Sasak.
Dengan pendekatan ini, pendidikan karakter kebangsaan tidak lagi dirasakan sebagai materi impor, tetapi tumbuh secara organik dari identitas dan nilai luhur masyarakat setempat. Tujuannya adalah membentuk generasi yang bangga akan akar budayanya sekaligus memiliki komitmen kuat terhadap persatuan dan kesatuan bangsa dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.
Tahapan Sistematis: Dari Pemahaman Konsep ke Praktik Pembelajaran
Agar guru dapat mengadopsi dan mengadaptasi materi dengan efektif, pelatihan dirancang dalam struktur yang sistematis dan terukur. Tahapan ini mencerminkan pendekatan kurikulum yang berjenjang, dari konsep hingga aplikasi di kelas.
- Fase Pengenalan Konsep: Guru memahami filosofi dan urgensi Kurikulum Bela Negara dalam konteks pendidikan modern dan tantangan global.
- Fase Desain Aktivitas: Guru merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) kreatif yang memasukkan elemen konkret bela negara seperti menjaga kerukunan, melestarikan lingkungan, dan menghargai karya bangsa.
- Fase Simulasi Mengajar: Guru mempraktikkan metode, misalnya mengaitkan kegiatan membersihkan pantai Lombok dengan konsep menjaga kedaulatan wilayah, atau menghubungkan pelestarian budaya dengan wujud cinta tanah air.
- Fase Evaluasi Dampak: Guru mengkaji efektivitas metode terhadap pemahaman dan sikap siswa, memastikan pembelajaran benar-benar bermakna.
Melalui struktur ini, guru penggerak di Lombok dibimbing menjadi fasilitator yang mahal menghubungkan teori kurikulum dengan realitas sosial-budaya siswa mereka.
Manfaat program ini bagi peserta didik sangat signifikan. Siswa akan menerima materi kebangsaan yang lebih menarik, personal, dan relevan melalui guru-guru yang telah terlatih. Mereka diajak memahami bahwa bela negara bukan sekadar hal militeristik, tetapi juga tindakan nyata seperti melestarikan warisan budaya, menjaga keamanan lingkungan, dan menghormati perbedaan. Pembelajaran menjadi lebih bermakna karena langsung bersentuhan dengan konteks kehidupan mereka di Lombok.
Sebagai penutup, program ini mengajak seluruh guru dan pelajar untuk aktif berpartisipasi dalam mengimplementasikan nilai-nilai bela negara. Bagi guru, mari terus kembangkan kreativitas pembelajaran berbasis kearifan lokal. Bagi pelajar, mulailah dari tindakan sederhana: menghargai budaya sendiri, menjaga lingkungan sekitar, dan hidup rukun dengan teman yang berbeda latar belakang. Dengan demikian, semangat karakter kebangsaan akan tumbuh subur di setiap ruang kelas dan kehidupan sehari-hari, dimulai dari Lombok untuk Indonesia.