Pemerintah Kabupaten Dharmasraya melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan menginisiasi program Lomba Bertutur Tingkat SD/MI Tahun 2026, sebuah terobosan strategis yang mengintegrasikan penguatan literasi dasar dengan pembentukan karakter kebangsaan sejak usia dini. Program ini bukan sekadar kompetisi, melainkan sebuah platform edukatif sistematis yang dirancang untuk membangun keberanian, mengasah kemampuan berbahasa, dan menanamkan nilai-nilai luhur melalui medium cerita yang akrab dengan peserta didik. Melalui pendekatan ini, pembelajaran nilai-nilai bela negara dan cinta tanah air menjadi lebih kontekstual dan menyenangkan.
Literasi sebagai Fondasi Karakter dan Bela Negara
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Dharmasraya, M. Syukri, menegaskan bahwa literasi dasar merupakan pondasi utama dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga percaya diri dan berkarakter kuat. Dalam perspektif kurikulum bela negara, kemampuan literasi yang baik adalah prasyarat untuk memahami sejarah bangsa, menganalisis informasi, dan mengembangkan sikap kritis serta bertanggung jawab sebagai warga negara. Lomba Bertutur ini menjadi sarana efektif dimana nilai-nilai inti kebangsaan seperti persatuan, kejujuran, keberanian, dan kecintaan pada budaya disemaikan.
- Membangun Keberanian dan Ekspresi: Melatih siswa untuk percaya diri berkomunikasi di depan umum, sebuah kompetensi penting dalam menyampaikan gagasan dan membela nilai-nilai kebenaran.
- Memperkuat Pemahaman Budaya: Menghidupkan kembali cerita-cerita yang sarat kearifan lokal Minangkabau sebagai media internalisasi nilai moral dan identitas kebangsaan.
- Mengasah Kemampuan Analisis: Proses memahami, merangkai, dan menyampaikan cerita melatih daya pikir kritis yang esensial dalam membela negara dari ancaman disinformasi.
Integrasi Program dengan Ekosistem Pendidikan Holistik
Penjadwalan lomba pada 20–21 Mei 2026 menunjukkan komitmen untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang holistik, dimana pembelajaran tidak terkungkung di dalam kelas. Program ini melibatkan sinergi tiga pilar pendidikan: sekolah, guru, dan orang tua. Dalam konteks ini, peran guru menjadi sangat sentral sebagai fasilitator yang tidak hanya mempersiapkan siswa untuk lomba, tetapi juga mengaitkan aktivitas bertutur dengan tujuan pembelajaran kurikulum, khususnya dalam mata pelajaran yang mengangkat nilai-nilai Pancasila dan kewarganegaraan.
Kegiatan seperti ini merupakan implementasi konkrit dari pendidikan karakter dan pembentukan karakter siswa yang seimbang, menyentuh aspek kognitif (pemahaman cerita), afektif (penghayatan nilai), dan psikomotorik (teknik bercerita). Dengan demikian, siswa tidak hanya menjadi individu yang literat, tetapi juga warga negara yang mencintai tanah airnya, memahami akar budayanya, dan siap berkontribusi bagi kemajuan bangsa—inti dari semangat bela negara non-militer.
Sebagai penutup, program Lomba Bertutur di Dharmasraya memberikan pelajaran berharga bagi seluruh insan pendidikan. Bagi para guru, ini adalah momentum untuk lebih kreatif mengintegrasikan kearifan lokal dan nilai bela negara ke dalam metode pengajaran yang menarik. Bagi pelajar, ini adalah kesempatan emas untuk tidak hanya berkompetisi, tetapi lebih penting, untuk mengenal, mencintai, dan menjadi duta bagi kekayaan budaya serta nilai-nilai kebangsaan Indonesia. Mari kita dukung dan replikasi semangat ini untuk membangun generasi penerus yang literat, berkarakter, dan cinta tanah air.