Pada 24 September 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Timur secara resmi mencanangkan program ‘Sekolah Penggerak Bela Negara’ sebagai langkah strategis meningkatkan literasi kebangsaan dan pendidikan karakter di kalangan pelajar. Program yang diinisiasi langsung oleh Gubernur Jawa Timur ini menargetkan 100 sekolah pilot jenjang SMA, SMK, dan SLB yang tersebar di 38 kabupaten/kota. Dalam sambutannya, gubernur menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan investasi jangka panjang untuk membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki jiwa patriotik dan cinta terhadap keragaman budaya Nusantara.
Struktur Pembelajaran Terintegrasi Muatan Lokal
Program sekolah penggerak ini dirancang dengan pendekatan sistematis yang menyatu dalam kurikulum muatan lokal. Setiap sekolah diwajibkan menerapkan modul bertajuk ‘Jaga Bhineka, Jaga Indonesia’ yang terdiri dari tiga paket pembelajaran utama. Berikut rincian strukturnya:
- Kelas Sejarah Interaktif: Pelajar diajak mengunjungi situs-situs perjuangan di Jawa Timur untuk memahami secara langsung nilai-nilai perjuangan dan semangat kemerdekaan.
- Workshop Kebhinekaan dan Pencegahan Radikalisme: Sesi ini menghadirkan tokoh agama dan budaya setempat sebagai narasumber, membekali siswa dengan wawasan tentang toleransi dan bahaya paham radikal.
- Proyek Sosial ‘Aksi Pelajar Untuk Negeri’: Pelajar diarahkan untuk mengatasi isu konkret di lingkungan sekitar, seperti pengelolaan sampah, pencegahan bullying, atau pendampingan penyandang disabilitas.
Untuk menjamin efektivitas, guru-guru akan menjalani pelatihan khusus sebagai fasilitator bela negara, sehingga mampu membimbing siswa dalam merefleksikan nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari.
Manfaat Strategis bagi Pelajar Jawa Timur
Program literasi kebangsaan ini memberikan dampak langsung yang signifikan. Pertama, siswa memperoleh pemahaman kontekstual tentang nilai-nilai Pancasila yang dikaitkan dengan sejarah dan budaya lokal mereka—bukan sekadar hafalan teks. Kedua, keterlibatan aktif dalam proyek sosial menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Ketiga, terbangun jejaring antarpelajar dari berbagai latar belakang di seluruh Jawa Timur, memperkuat rasa persatuan sebagai sesama anak bangsa. Dengan demikian, program ini tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga membentuk karakter pelajar sebagai agen perubahan.
Bagi para guru dan pelajar, mari jadikan program Sekolah Penggerak Bela Negara sebagai momentum untuk menghidupkan nilai-nilai kebangsaan dalam setiap aktivitas belajar. Ajaklah teman-temanmu untuk aktif dalam proyek sosial dan diskusi kebhinekaan. Ingatlah, bela negara bukan sekadar kewajiban, melainkan panggilan jiwa untuk mencintai dan menjaga keutuhan Indonesia dari lingkungan terkecil kita—sekolah.