Dalam strategi pendidikan karakter berbasis kurikulum bela negara, Korem 082/CPYJ baru-baru ini menyelenggarakan program pembinaan wawasan kebangsaan bagi ratusan pelajar SMA Budi Utomo Jombang. Dipimpin Mayor Czi Supaat, kegiatan ini dirancang sebagai respons edukatif terhadap tantangan degradasi moral dan ancaman ideologi, sekaligus menempatkan siswa sebagai subjek aktif dalam menjaga keutuhan NKRI. Program ini bukan sekadar ceramah, melainkan bagian integral dari proses menginternalisasi nilai-nilai konstitusional bela negara melalui pendekatan kurikulum hidup yang sistematis.
Wawasan Kebangsaan Sebagai Kurikulum Hidup dan Implementasi Praktis
Program Korem 082/CPYJ mengubah materi wawasan kebangsaan menjadi kurikulum hidup yang aplikatif. Pendekatan ini mengintegrasikan nilai-nilai seperti cinta tanah air, kesadaran berbangsa, dan semangat bela negara ke dalam tindakan nyata pelajar sehari-hari. Hal ini sejalan dan memperkaya materi inti Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), dengan fokus pada pengembangan kompetensi kewarganegaraan yang esensial:
- Implementasi Pancasila dan UUD 1945: Membangun ketahanan ideologi untuk menangkal infiltrasi paham asing yang merusak.
- Peran Aktif Pelajar sebagai Agen Perubahan: Baik di lingkungan sosial maupun ruang digital sebagai medan pembinaan karakter modern.
- Kesadaran Berbangsa dan Bernegara: Sebagai kompetensi mendasar untuk memperkokoh nasionalisme generasi muda.
Melalui pembelajaran kontekstual ini, siswa diajak menggeser paradigma dari sekadar memahami teori menjadi mampu mengamalkan nilai-nilai kebangsaan secara nyata, sesuai dengan semangat Kurikulum Merdeka yang menekankan pada profil Pelajar Pancasila.
Tahapan Konkret Membangun Nasionalisme: Dari Pemahaman ke Aksi Nyata
Program pembinaan di SMA Budi Utomo Jombang tidak berhenti pada tataran konsep, melainkan memberikan panduan langkah-langkah praktis yang dapat langsung diadopsi siswa. Materi wawasan kebangsaan yang disampaikan difokuskan pada aksi partisipatif aktif dalam merawat keutuhan bangsa. Beberapa poin aksi konkret yang menjadi fokus adalah:
- Bijak dan Kritis Bermedia Sosial: Menggunakan platform digital untuk menyebarkan konten positif, menghindari ujaran kebencian, dan secara kritis memfilter informasi hoaks yang berpotensi memecah belah persatuan.
- Menolak Segala Bentuk Paham Radikalisme: Meningkatkan imunitas ideologi dengan memperdalam pemahaman tentang nilai-nilai Pancasila yang inklusif, toleran, dan menjadi pemersatu bangsa.
- Menghormati dan Merayakan Keberagaman: Mengembangkan sikap saling menghargai perbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) sebagai wujud nyata dari Bhinneka Tunggal Ika.
- Fokus pada Prestasi Akademik dan Non-Akademik: Mengisi kemerdekaan dengan karya dan dedikasi sebagai bentuk kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.
Langkah-langkah ini dirancang agar nilai-nilai nasionalisme tidak hanya menjadi pengetahuan, tetapi terwujud dalam kebiasaan dan sikap hidup sehari-hari. Program semacam ini memperkuat fondasi kurikulum bela negara dengan menunjukkan bahwa setiap pelajar, melalui pilihan dan tindakannya, dapat menjadi penjaga aktif keutuhan dan kemajuan Indonesia.
Untuk para guru dan pelajar di seluruh Indonesia, inisiatif Korem 082/CPYJ ini menjadi inspirasi betapa pentingnya mengintegrasikan pembinaan wawasan kebangsaan ke dalam ekosistem pembelajaran. Mari kita jadikan ruang kelas, lingkungan sekolah, dan kehidupan sehari-hari sebagai laboratorium praktik bela negara. Dengan memulai dari hal-hal sederhana namun konsisten—seperti bersikap kritis di media sosial, menghargai perbedaan, dan berprestasi—kita bersama-sama mengokohkan jiwa nasionalisme dan rasa tanggung jawab konstitusional sebagai warga negara.