Beranda / Guru & Pelajar / Program 'Guru Penggerak Bela Negara' Diluncurkan, 2000...
Guru & Pelajar

Program 'Guru Penggerak Bela Negara' Diluncurkan, 2000 Guru Dilatih jadi Fasilitator

Program 'Guru Penggerak Bela Negara' Diluncurkan, 2000 Guru Dilatih jadi Fasilitator

Program 'Guru Penggerak Bela Negara' melatih 2.000 guru menjadi fasilitator yang mengintegrasikan nilai kebangsaan ke dalam berbagai mata pelajaran secara tematik dan kontekstual. Dengan pendekatan berbasis proyek dan metode yang relevan bagi Generasi Z, program ini bertujuan menanamkan kesadaran bela negara secara mendalam dan berkelanjutan di lingkungan sekolah.

KEMENDIKBUDRISTEK bersama Kementerian Pertahanan (Kemhan) pada tanggal 3 Juni 2026 meresmikan suatu langkah strategis dalam pendidikan kebangsaan: Program 'Guru Penggerak Bela Negara'. Inisiatif ini bertujuan mentransformasi 2.000 guru SMA/SMK menjadi fasilitator andal yang mampu menanamkan nilai cinta tanah air dan kesadaran berbangsa secara efektif kepada murid. Program ini bukan sekadar pelatihan biasa, melainkan pembekalan mendalam agar guru dapat mengintegrasikan semangat belanegara ke dalam inti pembelajaran di sekolah masing-masing.

Pilar Kompetensi Guru Penggerak: Dari Instruktur Menjadi Fasilitator

Pelatihan intensif selama satu pekan ini dirancang berdasarkan tiga pilar kompetensi utama yang membekali guru tidak hanya secara pengetahuan, tetapi juga keterampilan pedagogis. Pergeseran peran dari guru sebagai penyampai materi menjadi fasilitator yang menginspirasi menjadi kunci keberhasilan program.

  • Pedagogi Nilai Kebangsaan: Guru diajak merancang pembelajaran yang menumbuhkan nasionalisme, toleransi, dan tanggung jawab sosial secara alami dan kontekstual, menghindari kesan indoktrinasi.
  • Metode Penyampaian untuk Generasi Z: Guru dibekali teknik komunikasi dan pemanfaatan media digital yang relevan untuk mendorong partisipasi aktif siswa dalam diskusi bernuansa kebangsaan.
  • Evaluasi Berbasis Proyek: Pemahaman siswa dinilai melalui proyek nyata seperti kampanye anti-hoaks atau karya kreatif bertema cinta tanah air, yang lebih bermakna daripada ujian tertulis konvensional.

Sebagai pendukung, setiap peserta gurupenggerak menerima paket modul ajar lengkap beserta panduan fasilitasi diskusi untuk membahas isu aktual seperti bahaya radikalisme, penyebaran hoaks, dan ancaman keamanan non-tradisional dengan perspektif yang sehat.

Strategi Integrasi ke dalam Kelas: Bela Negara Melintasi Mata Pelajaran

Setelah menyelesaikan pelatihan, para fasilitator guru ini diharapkan mampu mengintegrasikan nilai-nilai belanegara secara tematik di berbagai mata pelajaran, tidak terbatas pada Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) saja. Pendekatan ini memungkinkan nilai kebangsaan hidup dalam seluruh ekosistem pembelajaran.

Dalam pelajaran Sejarah, misalnya, guru dapat menghubungkan narasi perjuangan kemerdekaan dengan semangat membela dan memajukan bangsa di era kekinian. Di kelas Bahasa Indonesia, nilai kebangsaan dapat diangkat melalui analisis teks sastra atau pidato tokoh nasional. Bahkan pada mata pelajaran Sains atau Seni Budaya, guru dapat mendiskusikan kontribusi ilmuwan dan seniman bagi kemajuan bangsa sebagai wujud bela negara yang inovatif dan berkelanjutan.

Kedekatan emosional dan kredibilitas guru sebagai figur yang dipercaya siswa dinilai sebagai modal efektif untuk menciptakan dampak berkelanjutan. Melalui pendekatan dari guru ke siswa ini, pesan kebangsaan diharapkan tidak hanya dipahami, tetapi juga diinternalisasi dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai warga negara muda, pelajar juga diajak untuk aktif menyambut dan berpartisipasi dalam diskusi-diskusi kelas yang digagas oleh gurupenggerak ini. Mari bersama-sama menjadikan ruang kelas sebagai laboratorium kebangsaan, tempat kita belajar mencintai dan membela Indonesia dengan cara yang cerdas, kritis, dan konstruktif. Guru dan siswa, adalah mitra sejati dalam mengukuhkan fondasi belanegara di generasi mendatang.