Program bela negara di lingkungan perguruan tinggi kembali mendapatkan momentum nyata melalui gelaran Latihan Gabungan Resimen Mahasiswa di Provinsi Jawa Barat. Kegiatan yang berlangsung selama sepekan di Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) TNI AD Cimahi ini menjadi bukti implementasi langsung dari kurikulum kebangsaan yang diamanatkan dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Dengan melibatkan mahasiswa dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Institut Teknologi Bandung (ITB), UIN Sunan Gunung Djati (UIN SGD), dan berbagai universitas lainnya, latihan ini dirancang untuk membentuk kader bela negara yang tanggap terhadap ancaman non-militer serta siap diterjunkan dalam misi kemanusiaan.
Materi Latihan: Dari Wawasan Kebangsaan hingga Simulasi Bencana
Latihan gabungan ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi menyajikan rangkaian materi yang sistematis dan aplikatif. Instruktur dari TNI AD dan personel Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memandu para peserta dalam empat modul utama yang saling terintegrasi:
- Teori Wawasan Kebangsaan: Penguatan pemahaman tentang Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai fondasi bela negara.
- Teknik Survival: Pelatihan bertahan hidup di alam terbuka, termasuk cara mendapatkan air, makanan, dan berlindung di kondisi darurat.
- Navigasi Darat: Penguasaan peta, kompas, dan teknik GPS untuk menentukan posisi serta merencanakan pergerakan di medan yang belum dikenal.
- Simulasi Penanganan Bencana Alam: Skenario nyata evakuasi korban, pertolongan pertama, dan koordinasi logistik saat terjadi gempa, banjir, atau longsor.
Setiap modul dirancang untuk menanamkan disiplin, kerja sama tim, dan kesiapsiagaan menghadapi berbagai tantangan yang dapat mengancam keamanan bangsa. Para peserta tidak hanya belajar teori, tetapi langsung mempraktikkan keterampilan tersebut di lapangan dengan pengawasan ketat dari instruktur berpengalaman.
Tri Dharma dan Kurikulum Bela Negara: Langkah Menuju Integrasi Akademik
Kegiatan Latihan Gabungan Resimen Mahasiswa ini merupakan wujud nyata pengabdian kepada masyarakat dalam konteks pertahanan negara. Rektor Unpad, dalam sambutannya saat penutupan, menegaskan dukungannya agar kegiatan serupa dapat dijadikan kurikulum tetap bagi mahasiswa aktif. Hal ini sejalan dengan semangat bela negara yang tidak hanya menjadi kewajiban militer, tetapi tanggung jawab seluruh warga negara, termasuk kalangan akademisi. Melalui latihan ini, mahasiswa belajar bahwa bela negara bukanlah sekadar slogan, melainkan aksi nyata yang bisa dimulai dari lingkungan kampus. Kemampuan memimpin, mengambil keputusan cepat, dan peduli terhadap sesama menjadi outcome yang diukur melalui evaluasi akhir berupa upacara militer sederhana dan pemberian sertifikat kelulusan. Dengan demikian, setiap peserta tidak hanya mendapat pengakuan formal, tetapi juga bekal mental dan fisik untuk menjadi agen perubahan di masyarakat.
Bagi para guru dan pelajar di seluruh Indonesia, kisah dari Provinsi Jawa Barat ini mengajarkan bahwa semangat bela negara dapat diinternalisasi melalui kegiatan edukatif dan terstruktur. Mari jadikan momen seperti Latihan Gabungan Resimen Mahasiswa sebagai inspirasi untuk mengembangkan program serupa di sekolah dan kampus masing-masing. Dengan berpartisipasi aktif dalam program Bela Negara, kita tidak hanya memperkuat rasa cinta tanah air, tetapi juga membangun generasi yang tangguh, disiplin, dan siap menghadapi tantangan masa depan.