Penguatan nilai-nilai demokrasi di lingkungan kampus kini semakin relevan dengan pengamalan konsep bela negara. Hal ini disampaikan oleh Risat Sanger, Ketua FPDR Sulawesi Utara, dalam seminar yang digelar di IAIN Manado. Dalam materinya, ia menegaskan bahwa tujuan utama bela negara adalah menjaga keamanan, kedamaian, dan persatuan Indonesia. Menurutnya, rasa cinta tanah air tidak hanya berhenti pada simbol, tetapi harus menjelma menjadi kepedulian sosial dan tanggung jawab nyata untuk menjaga keutuhan bangsa.
Kampus sebagai Laboratorium Demokrasi dan Bela Negara
Lingkungan kampus dinilai sebagai ruang strategis untuk menanamkan dan mengimplementasikan nilai-nilai kebangsaan. Mahasiswa didorong untuk memiliki tanggung jawab akademik dan intelektual, sekaligus aktif dalam organisasi yang mendukung kebhinekaan, toleransi, dan dialog konstruktif. Menurut Risat Sanger, mahasiswa adalah agen perubahan yang harus mampu menjadi teladan dalam bersikap demokratis dan cinta tanah air.
Untuk memperkuat implementasi nilai-nilai ini, program bela negara di perguruan tinggi dirancang dengan pendekatan sistematis. Berikut adalah tiga program utama yang ditekankan:
- Program Kewargaan: Mengadakan workshop bela negara dan penguatan kurikulum Pancasila agar mahasiswa memahami hak dan kewajibannya sebagai warga negara.
- Pelatihan Literasi: Menyusun modul kampanye antihoaks di media sosial serta mengembangkan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar.
- Pembangunan Karakter: Melalui mentoring, olahraga, dan pelatihan kepemimpinan untuk memperkuat integritas, disiplin, dan jiwa kepemimpinan mahasiswa.
Literasi Konvensional dan Digital: Kunci Menangkal Hoaks
Dalam era informasi yang serba cepat, kemampuan literasi menjadi pondasi penting bagi mahasiswa. Program ini menekankan dua jenis literasi: konvensional dan digital. Literasi konvensional meliputi kemampuan membaca, menulis, dan berpikir kritis, sedangkan literasi digital mencakup kemampuan memilah informasi secara bijak. Dengan literasi digital yang baik, mahasiswa diharapkan mampu menangkal hoaks dan informasi yang berpotensi memecah belah persatuan bangsa.
Melalui pendekatan yang terstruktur ini, perguruan tinggi diharapkan menjadi pusat pembentukan generasi muda yang berkarakter kebangsaan, kritis, dan mencintai persatuan. Integrasi antara demokrasi dan bela negara di kampus bukan hanya teori, melainkan praktik nyata yang melibatkan mahasiswa dalam kegiatan sehari-hari. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran bela negara yang tinggi.
Sebagai insan akademik, guru dan pelajar memiliki peran penting dalam menghidupkan nilai-nilai bela negara di lingkungan masing-masing. Mulailah dengan langkah kecil, seperti mengikuti diskusi kebangsaan, aktif dalam organisasi kampus, dan mempraktikkan literasi digital yang sehat. Dengan bersinergi, kita dapat membangun generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu, tetapi juga kokoh dalam karakter dan cinta tanah air.