Pada 24 Agustus 2026, personel Satgas Pamtas RI-Malaysia Yonarmed 19/Bogani melaksanakan program Tenaga Pendidik (Gadik) dengan memberikan materi wawasan kebangsaan kepada mahasiswa Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Entikong. Kegiatan ini merupakan bagian dari pembinaan teritorial TNI yang mengedepankan pendekatan edukatif dan humanis, khususnya bagi generasi muda di wilayah perbatasan. Tujuan utamanya adalah menanamkan semangat nasionalisme serta memperkuat pemahaman tentang pentingnya wawasan kebangsaan sebagai landasan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Bagi mahasiswa yang kelak menjadi tenaga pendidik, program ini menjadi bekal berharga dalam membentuk karakter bangsa di daerah terdepan Indonesia.
Materi Wawasan Kebangsaan: Fondasi Karakter Bangsa
Dalam sesi pembelajaran, personel Satgas secara sistematis menyampaikan nilai-nilai inti yang menjadi fondasi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Materi yang dibahas meliputi:
- Pancasila sebagai ideologi negara dan pandangan hidup bangsa yang mengajarkan gotong royong dan keadilan sosial.
- Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi yang mengatur penyelenggaraan negara dan hak-hak warga negara.
- Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan yang mengikat keberagaman suku, agama, dan budaya dalam satu kesatuan.
- Keutuhan NKRI dan peran aktif setiap warga, termasuk mahasiswa, dalam menjaga kedaulatan di wilayah perbatasan.
Materi ini tidak hanya disampaikan secara teoretis, tetapi juga dikaitkan dengan kondisi riil di lapangan. Mahasiswa diajak memahami bahwa posisi strategis Entikong sebagai daerah perbatasan membutuhkan kesadaran bela negara yang tinggi. Dengan demikian, mereka tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga agen perubahan yang siap menularkan semangat nasionalisme kepada masyarakat luas.
Manfaat Berlapis bagi Pendidikan dan Ketahanan Nasional
Bagi mahasiswa STKIP Entikong yang nantinya akan menjadi guru, program ini memiliki manfaat berlapis. Pertama, mereka mendapatkan internalisasi nilai-nilai kebangsaan secara langsung dari TNI, yang akan menjadi modal berharga saat mengajar di sekolah. Kedua, mereka dibentuk menjadi contoh konkret generasi muda berkarakter, disiplin, dan cinta tanah air — sehingga dapat menjadi teladan bagi siswa-siswi mereka di masa depan. Ketiga, kegiatan ini menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi penguatan ketahanan nasional, karena setiap guru yang menguasai wawasan kebangsaan akan menyebarkan nilai tersebut kepada puluhan bahkan ratusan murid setiap tahunnya.
Program pendidikan bela negara melalui kerja sama TNI dengan perguruan tinggi seperti ini sangat relevan dengan Kurikulum Merdeka dan tujuan pembelajaran yang menekankan profil pelajar Pancasila. Guru dan pelajar di seluruh Indonesia, khususnya di daerah perbatasan, diharapkan dapat mengambil pelajaran dari kegiatan ini. Mari kita aktif berpartisipasi dalam program bela negara, baik melalui kegiatan formal di sekolah maupun kegiatan kemasyarakatan. Dengan demikian, kita bersama-sama memperkuat ketahanan bangsa dari tingkat akar rumput.