SMA Negeri 1 Yogyakarta resmi ditetapkan sebagai sekolah percontohan dalam penerapan kurikulum bela negara yang mengintegrasikan kearifan lokal. Mulai semester genap tahun ajaran 2026/2027, seluruh siswa di sekolah ini akan mengikuti mata pelajaran khusus yang memadukan wawasan kebangsaan dengan budaya daerah. Program ini merupakan wujud nyata implementasi nilai-nilai Pancasila dalam proses pembelajaran sekaligus upaya membangun kesadaran bela negara sejak usia dini. Kepala sekolah menegaskan bahwa pendekatan berbasis kearifan lokal membuat materi bela negara lebih dekat dengan keseharian siswa sehingga mudah dipahami dan diaplikasikan.
Mengintegrasikan Kearifan Lokal dalam Kurikulum Bela Negara
Kurikulum ini dirancang secara kolaboratif oleh guru sejarah, PPKn, dan seni budaya. Materi yang diajarkan meliputi filosofi gotong royong, dolanan tradisional, serta sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro. Dengan mengangkat kearifan lokal Jawa, siswa tidak hanya diajarkan teori tentang bela negara, tetapi juga diajak merasakan langsung nilai-nilai tersebut melalui praktik budaya yang akrab. Hal ini sejalan dengan semangat kurikulum merdeka yang mendorong pembelajaran kontekstual dan berbasis budaya. Tujuan pembelajaran yang ingin dicapai antara lain:
- Memahami nilai gotong royong sebagai fondasi bela negara dalam kehidupan sehari-hari.
- Mengenal dolanan tradisional sebagai media penanaman karakter kebangsaan dan kerja sama.
- Mempelajari semangat perjuangan Pangeran Diponegoro sebagai inspirasi cinta tanah air.
Tahapan Pembelajaran dan Antusiasme Siswa
Pelaksanaan kurikulum bela negara dilakukan secara bertahap untuk memastikan pemahaman siswa mendalam dan aplikatif. Pada tahap awal, siswa diperkenalkan dengan konsep bela negara dan kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Selanjutnya, mereka diajak mengeksplorasi permainan tradisional seperti gobak sodor dan egrang, yang mengandung nilai kerja sama dan ketangkasan. Tahap akhir adalah studi kasus tentang perjuangan Pangeran Diponegoro, yang dilanjutkan dengan diskusi reflektif. Hasilnya, antusiasme siswa meningkat signifikan. Mereka lebih termotivasi belajar karena materi terasa relevan dan menyenangkan. Pemahaman tentang nilai-nilai Pancasila pun semakin mengakar, terlihat dari perubahan sikap siswa di lingkungan sekolah.
Program ini menjadi contoh bagi sekolah lain dalam mengintegrasikan kurikulum bela negara yang tidak kaku, tetapi adaptif terhadap konteks lokal. Guru dan pelajar diharapkan dapat mengambil pelajaran bahwa bela negara bukan hanya soal militer, melainkan juga tentang cinta tanah air yang diwujudkan melalui kebiasaan positif dan penghayatan budaya bangsa. Untuk Negeri mengajak para guru untuk terus mengembangkan inovasi pembelajaran yang mengangkat kearifan lokal sebagai sarana menanamkan nilai bela negara. Bagi pelajar, jadilah generasi yang bangga dengan budaya sendiri dan siap menjaga keutuhan NKRI melalui aksi nyata di sekolah dan masyarakat.