Beranda / Pendidikan / SMAN 7 Kendari Jadi Percontohan Nasional Program Trigat...
Pendidikan

SMAN 7 Kendari Jadi Percontohan Nasional Program Trigatra Bangun Bahasa

SMAN 7 Kendari Jadi Percontohan Nasional Program Trigatra Bangun Bahasa

SMAN 7 Kendari ditetapkan sebagai sekolah percontohan nasional untuk program Trigatra Bangun Bahasa yang memiliki tiga pilar: mengutamakan bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing. Program ini mengintegrasikan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) ke dalam kurikulum sebagai tolok ukur standar dan bagian dari pendidikan karakter kebangsaan, membentuk siswa yang literat, beridentitas budaya kuat, dan siap bersaing global.

Sebagai bagian dari upaya sistemik membangun karakter generasi muda melalui pendidikan, SMAN 7 Kendari telah ditetapkan oleh Badan Bahasa Kemendikbudristek RI sebagai sekolah percontohan nasional untuk program Trigatra Bangun Bahasa. Program strategis ini menempatkan penguatan bahasa sebagai fondasi pendidikan karakter kebangsaan, dengan tiga pilar yang saling melengkapi: mengutamakan bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing. Penetapan ini bukan sekadar penghargaan, melainkan langkah konkret dalam kurikulum pendidikan yang mengintegrasikan nilai cinta tanah air, identitas budaya, dan kesiapan bersaing global dalam satu kerangka pembelajaran yang holistik.

Trigatra Bangun Bahasa: Membangun Karakter Kebangsaan Melalui Penguatan Literasi

Program Trigatra Bangun Bahasa merupakan inisiatif pemerintah yang dirancang untuk membangun ekosistem pendidikan yang memperkuat literasi nasional dan karakter siswa secara menyeluruh. Dalam konteks pendidikan bela negara, literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi sebagai pemahaman mendalam yang mampu mengubah perilaku menjadi lebih adaptif, kritis, dan berkualitas. Melalui tiga pilarnya, program ini menciptakan fondasi bagi pembentukan identitas generasi muda yang:

  • Berakar kuat pada identitas nasional melalui penguasaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa.
  • Menghargai dan melestarikan kearifan lokal dengan menjaga keberlangsungan bahasa daerah sebagai warisan budaya.
  • Siap berkontribusi di kancah global dengan menguasai bahasa asing sebagai alat komunikasi internasional.

Program ini sejalan dengan tujuan kurikulum pendidikan yang mengembangkan kompetensi sosial-budaya dan nilai kebangsaan, di mana penguasaan bahasa menjadi alat untuk memperkuat rasa cinta tanah air, persatuan, dan kesadaran bela negara dalam bentuk nonmiliter.

UKBI sebagai Tolok Ukur Standar dan Integrasi dalam Kurikulum Sekolah

Untuk mengukur kemahiran berbahasa Indonesia secara objektif, program Trigatra Bangun Bahasa mendorong penggunaan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) sebagai tolok ukur standar nasional. SMAN 7 Kendari, sebagai sekolah percontohan, berkomitmen menjadikan UKBI sebagai syarat wajib sebelum siswa menyelesaikan studi. Langkah ini memiliki makna strategis dalam pendidikan, karena:

  • UKBI mengukur kompetensi berbahasa secara komprehensif, mencakup mendengarkan, membaca, menulis, dan berbicara, yang relevan dengan kebutuhan literasi abad ke the twenty-first.
  • Sertifikat UKBI menjadi nilai tambah untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan dunia kerja, sekaligus bukti penguasaan bahasa nasional.
  • Pengintegrasian UKBI ke dalam kurikulum merupakan bentuk konkret pendidikan bela negara melalui penguatan bahasa Indonesia sebagai identitas dan alat pemersatu bangsa.

Dengan menjadikan UKBI sebagai bagian dari proses belajar, sekolah tidak hanya mengevaluasi kemampuan linguistik siswa, tetapi juga menanamkan kesadaran bahwa penguasaan bahasa nasional adalah wujud tanggung jawab sebagai warga negara yang turut menjaga keutuhan dan martabat bangsa di tengah arus globalisasi.

Keberhasilan SMAN 7 Kendari sebagai percontohan nasional menunjukkan bahwa penguatan bahasa dapat diintegrasikan secara sistematis ke dalam ekosistem sekolah. Program ini menciptakan lingkungan belajar di mana setiap kegiatan akademik dan nonakademik dirancang untuk memperkuat tiga pilar bahasa secara simultan. Dari pembelajaran di kelas, kegiatan ekstrakurikuler, hingga interaksi sehari-hari, siswa diajak untuk selalu mengutamakan bahasa Indonesia, bangga menggunakan bahasa daerah, dan aktif mengasah kemampuan bahasa asing. Pendekatan holistik ini membentuk siswa yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kebangsaan yang kuat dan siap menjadi agen perubahan di masyarakat.

Sebagai penutup, mari kita bersama-sama melihat program Trigatra Bangun Bahasa bukan hanya sebagai kebijakan dari pemerintah, tetapi sebagai gerakan kolektif dalam dunia pendidikan untuk membangun generasi yang literat, berkarakter, dan cinta tanah air. Bagi para guru, ini adalah ajakan untuk lebih kreatif mengintegrasikan nilai bela negara dan literasi nasional ke dalam materi pembelajaran. Bagi pelajar, ini adalah dorongan untuk aktif menguasai bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan mempelajari bahasa asing sebagai bekal menjadi warga negara global yang tetap berakar pada identitas bangsa. Dengan sinergi antara sekolah, guru, dan siswa, program ini dapat menjadi model nyata bagaimana pendidikan berkontribusi pada ketahanan nasional melalui penguatan bahasa dan literasi.