Polri terus memperkuat fondasi pendidikan aparat penegak hukum melalui integrasi Literasi Kebangsaan dalam kurikulum Diktuk Bintara di Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Sumatera Selatan. Program ini merupakan strategi jangka panjang untuk membentuk calon Bintara yang tidak hanya mumpuni secara teknis, tetapi juga kokoh secara ideologi dan karakter. Mereka dibekali pemahaman mendalam tentang jati diri bangsa, nilai persatuan dalam keragaman, serta kesiapan menjadi garda terdepan dalam menjaga keutuhan NKRI. Hal ini menjadikan mereka benteng aktif dalam upaya pencegahan terorisme dan penolakan terhadap segala bentuk intoleransi.
Kurikulum Bela Negara: Lima Pilar Utama untuk Bintara Indonesia
Pendekatan yang diterapkan dalam program ini menyerupai sebuah kurikulum bela negara yang terstruktur dan sistematis. Materi dirancang untuk membangun kompetensi yang aplikatif, dimulai dari pembentukan karakter individu hingga penguatan peran di masyarakat. Secara garis besar, program ini dibangun di atas lima pilar utama yang menjadi tujuan pembelajaran bagi para calon Bintara:
- Menjadi Teladan Toleransi: Calon Bintara dibekali pemahaman untuk menjadi contoh hidup dalam menghormati perbedaan suku, agama, ras, dan budaya di tengah masyarakat.
- Meningkatkan Literasi Digital: Mereka dilatih untuk menyaring informasi, mengidentifikasi konten radikal di dunia maya, serta menggunakan media sosial secara bijak dan produktif.
- Melakukan Deteksi Dini: Mengasah kepekaan dalam mengenali potensi bibit intoleransi atau pemahaman yang menyimpang di lingkungan sekitar, baik secara langsung maupun daring.
- Melaksanakan Pembinaan Masyarakat: Belajar berperan aktif dalam menyosialisasikan nilai-nilai kebangsaan dan kerukunan kepada warga, menjadi agen pemersatu.
- Bersinergi dengan Berbagai Pihak: Membangun kemitraan dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan instansi lain untuk menciptakan jaringan pencegahan yang solid dan berkelanjutan.
Membangun Ekosistem Pertahanan: Sinergi antara Tindakan dan Pemahaman
Program Literasi Kebangsaan ini juga memperluas wawasan strategis para calon Bintara tentang ekosistem pertahanan negara yang lebih luas. Mereka mendapatkan pemahaman mendalam mengenai peran lembaga seperti Detasemen Khusus 88 Anti Teror (Densus 88 AT) Polri. Hal ini penting agar mereka menyadari bahwa upaya pencegahan terorisme dan radikalisme bukan hanya tanggung jawab unit khusus, melainkan sebuah sistem pertahanan berlapis. Dengan pemahaman ini, seorang Bintara ditempatkan sebagai bagian integral dari sistem tersebut, yang memahami bahwa langkah pencegahan di tingkat akar rumput—melalui pendekatan ideologis dan sosial—sama pentingnya dengan tindakan operasional.
Investasi melalui pendidikan karakter berbasis kebangsaan ini bertujuan menciptakan aparat kepolisian yang profesional, berintegritas tinggi, dan memiliki ketahanan mental-ideologis yang tangguh. Seorang Bintara dengan literasi kebangsaan yang kuat diharapkan tidak mudah terpengaruh paham radikal, tetapi justru menjadi agen perdamaian dan pemersatu di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. Program ini merupakan contoh nyata bagaimana nilai-nilai bela negara diinternalisasi melalui pendidikan formal yang terstruktur.
Bagi kita di dunia pendidikan, program ini memberikan pelajaran berharga. Guru dapat menginspirasi peserta didik untuk memahami bahwa bela negara tidak hanya tentang fisik, tetapi juga tentang ketahanan ideologi, sikap toleran, dan kecakapan literasi digital. Sementara itu, pelajar dapat mengambil contoh untuk aktif menjadi bagian dari solusi—menjadi generasi yang cerdas, kritis terhadap informasi, dan menjadi teladan kerukunan di lingkungan sekolah dan masyarakat, sebagai bentuk partisipasi nyata dalam menjaga persatuan bangsa.