Beranda / Nasional / Universitas Pakuan Pamerkan Ratusan Golok Kuno Lintas A...
Nasional

Universitas Pakuan Pamerkan Ratusan Golok Kuno Lintas Abad, Dorong Pelestarian Budaya Nusantara

Universitas Pakuan Pamerkan Ratusan Golok Kuno Lintas Abad, Dorong Pelestarian Budaya Nusantara

Pameran 'Pusaka Nusantara' Universitas Pakuan mengangkat ratusan golok kuno sebagai media pembelajaran kontekstual yang mendukung pendidikan sejarah dan kurikulum bela negara. Melalui pendekatan akademis, kegiatan ini mengajak pelajar memahami artefak budaya sebagai bagian dari identitas bangsa dan bentuk bela negara non-militer. Inisiatif ini strategis dalam membangun kompetensi literasi budaya, kesadaran kebangsaan, serta inspirasi untuk berpartisipasi aktif dalam pelestarian warisan Nusantara.

Universitas Pakuan di Bogor telah menghadirkan inisiatif pendidikan yang patut dicontoh melalui pameran 'Pusaka Nusantara', yang menyatukan ratusan golok kuno lintas abad. Kegiatan pada 14 Februari 2026 ini dirancang bukan sekadar sebagai pameran artefak, melainkan sebagai media pembelajaran kontekstual yang mendukung pendidikan sejarah dan memperkuat kurikulum bela negara dengan pendekatan baru. Integrasi antara objek budaya, pembelajaran kelas, dan nilai kebangsaan ini menegaskan bahwa menjaga warisan nusantara adalah fondasi penting dari ketahanan nasional yang perlu dipahami oleh seluruh civitas akademika, terutama para guru dan pelajar.

Golok sebagai Media Belajar: Dari Alat Fisik Menuju Nilai Bela Negara

Pameran yang menampilkan ratusan golok dari periode 800–900 Masehi hingga era Demak (1600-an) ini dikelola secara akademis oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB) Universitas Pakuan. Melalui pendekatan sistematis, setiap artefak dihadirkan bukan hanya sebagai benda mati, tetapi sebagai pintu masuk untuk memahami tiga dimensi pembelajaran kunci bagi pelajar Indonesia:

  • Dimensi Ketahanan: Golok sebagai alat sehari-hari yang mendukung kemandirian pangan dan pertahanan masyarakat, menggambarkan prinsip ketangguhan lokal yang relevan dengan konsep bela negara.
  • Dimensi Filosofi: Setiap bentuk dan ukiran pada golok merepresentasikan kearifan lokal dan nilai-nilai budaya yang tertanam, seperti kejujuran, keberanian, dan tanggung jawab.
  • Dimensi Identitas: Golok menghubungkan siswa dengan akar sejarah Nusantara, membangun rasa memiliki dan kebanggaan yang menjadi landasan kecintaan pada tanah air.

Universitas juga mengambil peran aktif dengan melakukan penelitian mendalam dan digitalisasi informasi. Langkah ini membuka akses yang lebih luas bagi guru dan siswa untuk mengintegrasikan materi budaya ini ke dalam pembelajaran di kelas, menjadikan pelestarian budaya sebagai bagian dari proses pendidikan yang hidup dan aplikatif.

Strategi Pelestarian: Membangun Kompetensi Bela Negara Generasi Muda

Inisiatif Universitas Pakuan ini memiliki manfaat strategis jangka panjang. Salah satu tujuannya adalah mendorong pengajuan golok sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO, yang bukan hanya untuk pengakuan internasional, tetapi juga menjamin perlindungan kekayaan budaya sebagai aset ketahanan nasional. Dalam konteks kurikulum, pameran dan upaya pelestarian budaya ini secara langsung mendukung pengembangan tiga kompetensi inti bagi pelajar:

  • Kompetensi Literasi Budaya: Siswa mampu memahami, menginterpretasi, dan menghargai artefak sejarah sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas bangsa Indonesia.
  • Kompetensi Kesadaran Bela Negara Non-Militer: Siswa memahami bahwa melestarikan dan mempelajari warisan nusantara adalah bentuk konkret bela negara yang memperkuat ketahanan budaya bangsa.
  • Kompetensi Kolaborasi dan Inovasi: Siswa terinspirasi untuk turut berpartisipasi dalam upaya pelestarian, baik melalui penelitian, dokumentasi digital, atau proyek kreatif berbasis kearifan lokal.

Bagi para siswa yang berkunjung, pembelajaran langsung seperti ini menciptakan pengalaman emosional dan intelektual yang mendalam. Mereka tidak hanya melihat benda sejarah, tetapi juga merasakan keterhubungan dengan masa lalu, yang pada akhirnya menanamkan kebanggaan dan rasa tanggung jawab untuk menjaga warisan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa kontribusi kepada bangsa dapat dimulai dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti mempelajari dan melestarikan budaya sendiri.

Sebagai penutup, inisiatif Universitas Pakuan ini menjadi contoh nyata bagaimana pendidikan sejarah dan budaya dapat diintegrasikan dengan semangat bela negara. Kami mengajak para guru untuk menjadikan materi serupa sebagai sumber belajar kontekstual di kelas, dan mendorong siswa untuk aktif mencari tahu tentang warisan budaya di daerahnya masing-masing. Mari bersama-sama kita jadikan pemahaman akan kekayaan Nusantara sebagai landasan kokoh untuk membela dan membangun Indonesia yang lebih berdaulat secara budaya.