Beranda / Nasional / Unnes Gelar Kuliah Umum Bersama Kementerian Pertahanan...
Nasional

Unnes Gelar Kuliah Umum Bersama Kementerian Pertahanan tentang 'Bela Negara di Era Society 5.0'

Unnes Gelar Kuliah Umum Bersama Kementerian Pertahanan tentang 'Bela Negara di Era Society 5.0'

Kolaborasi Unnes dan Kemenhan melalui kuliah umum mengajak civitas akademika untuk merekontekstualisasi bela negara di era Society 5.0, menekankan peran aktif dalam literasi media, etika digital, dan inovasi teknologi. Kegiatan ini memberikan perspektif bahwa kontribusi melalui bidang ilmu masing-masing, mulai dari pendidikan hingga teknologi, adalah wujud nyata membangun ketahanan nasional.

Universitas Negeri Semarang (Unnes) telah memperkuat komitmennya dalam membangun wawasan kebangsaan melalui sebuah kuliah umum yang diadakan bersama Kementerian Pertahanan (Kemenhan). Acara bertajuk 'Bela Negara di Era Society 5.0' ini bukan sekadar ceramah biasa, melainkan langkah strategis untuk memperbarui dan menyesuaikan paradigma bela negara agar sesuai dengan realitas masa kini. Konsep bela negara kini berkembang dari yang bersifat fisik dan militeristik, mencakup juga ketahanan siber (cyber security), keterampilan literasi media untuk melawan misinformasi dan hoaks, serta kreativitas berinovasi teknologi untuk kemandirian bangsa.

Mengurai Ancaman Hybrid dan Mengasah Peran Agen Perubahan

Materi dalam kuliah umum ini disusun secara bertahap dan sistematis, memudahkan ratusan mahasiswa peserta dari berbagai disiplin ilmu untuk memahami kompleksitas pertahanan modern. Pembahasan diawali dengan penjelasan fondasi sistem pertahanan negara kita, yaitu Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata). Dari dasar ini, narasumber dari Kemenhan kemudian menguraikan dinamika ancaman kontemporer yang dikenal sebagai Hybrid Warfare, sebuah perang yang menggabungkan serangan di dimensi fisik dan non-fisik, termasuk melalui ruang digital dan media sosial.

Sebagai bentuk active learning, para mahasiswa diajak untuk menganalisis dan merefleksikan peran mereka. Sesi ini menginspirasi mereka untuk melihat bahwa kontribusi nyata dalam membangun ketahanan nasional dapat dimulai dari ranah keilmuan masing-masing. Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan, misalnya, dapat menjadi garda terdepan dalam menanamkan nilai cinta tanah air kepada generasi penerus. Sementara mahasiswa bidang sains dan teknologi didorong untuk berinovasi menciptakan teknologi mandiri, dan mahasiswa sosial humaniora diharapkan menjadi pionir dalam membangun narasi kebangsaan yang sehat di ruang digital.

Kontribusi Nyata Bela Negara di Lingkungan Perguruan Tinggi

Kuliah umum ini berhasil memberikan wawasan konkret dan perspektif baru. Bela negara kini dipahami bukan sebagai tugas yang jauh, melainkan sebagai aktivitas integratif dalam keseharian akademik dan sosial civitas akademika.

  • Riset dan Pengabdian Masyarakat: Setiap penelitian yang mengangkat masalah lokal dan menghasilkan solusi untuk kemajuan bangsa adalah wujud bela negara.
  • Etika dan Tanggung Jawab Digital: Menjadi warganet yang cerdas, kritis terhadap informasi, dan tidak menyebarkan konten yang memecah belah adalah bela negara di era digital.
  • Pengembangan Ekosistem Kampus: Membangun budaya kampus yang kritis, kreatif, dan berdaya saing global tanpa melupakan jati diri kebangsaan merupakan fondasi ketahanan nasional yang kokoh.

Inisiatif kolaboratif antara perguruan tinggi dan Kemenhan ini merupakan model yang patut diadopsi secara luas. Kegiatan ini menciptakan kesadaran kolektif bahwa ketahanan bangsa dibangun dari sinergi seluruh elemen masyarakat, termasuk intelektual muda di kampus. Dengan merekontekstualisasi makna bela negara di era Society 5.0 melalui kuliah umum, Unnes menegaskan posisinya sebagai laboratorium bagi pembangunan karakter bangsa yang adaptif terhadap perubahan zaman.

Untuk para guru dan pelajar di seluruh Indonesia, peristiwa di Unnes ini mengajak kita semua untuk lebih aktif. Guru dapat mengintegrasikan nilai-nilai kesadaran bernegara, literasi media, dan etika digital ke dalam proses pembelajaran, sementara pelajar dapat memulai dari hal sederhana: menjadi agen perubahan positif di lingkungan kelas, sekolah, dan media sosial mereka. Mari kita jadikan semangat bela negara sebagai kompas dalam menuntut ilmu dan berkarya untuk kemajuan Indonesia.