Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jakarta (UPNVJ) bersama Gerakan Bela Negara Indonesia (GBNI) tengah merancang paradigma baru dalam pendidikan bela negara. Langkah ini lahir dari kebutuhan mendesak untuk menjawab tantangan kontemporer, seperti perang kognisi, disinformasi, dan pesatnya perkembangan artificial intelligence (AI). Dalam konteks kurikulum, pendidikan bela negara tidak lagi cukup hanya mengajarkan wawasan kebangsaan secara konvensional, tetapi juga harus membekali pelajar dan masyarakat dengan literasi digital serta kemampuan berpikir kritis.
Mengapa Bela Negara Harus Beradaptasi dengan Perang Kognisi dan AI?
Perang kognisi adalah bentuk peperangan yang menyerang cara berpikir, persepsi, dan kesadaran seseorang. Di era digital, musuh tidak selalu datang dalam bentuk fisik, melainkan melalui banjir informasi, hoaks, dan manipulasi opini. Oleh karena itu, pendidikan bela negara harus berorientasi pada penguatan daya nalar. UPNVJ menegaskan bahwa masyarakat Indonesia membutuhkan kemampuan berpikir kritis, literasi digital yang baik, kecakapan memilah informasi, serta kesadaran ideologi yang kuat.
Model Aktualisasi Bela Negara (ABN) yang dikembangkan UPNVJ menjadi contoh bagaimana nilai-nilai bela negara dapat diterapkan dalam kehidupan nyata, tidak sekadar teori semata. Dengan model ini, pelajar diajak mengenali berbagai ancaman modern—termasuk perang kognisi—dan belajar mengambil peran aktif menjaga ketahanan nasional.
Kurikulum Bela Negara yang Menyeluruh dan Sistematis
Kurikulum pendidikan bela negara yang dirancang bersama GBNI akan mengatur berbagai aspek secara komprehensif. Rancangan ini dibuat agar dapat diterapkan secara sistematis di berbagai daerah, tidak hanya di perguruan tinggi, tetapi juga menjangkau sekolah, organisasi kepemudaan, pemerintah daerah, dan masyarakat desa. Beberapa komponen utama yang disusun antara lain:
- Tujuan pembelajaran yang jelas dan terukur sesuai jenjang pendidikan;
- Materi yang mengombinasikan wawasan kebangsaan dan literasi digital;
- Metode pelatihan yang partisipatif dan kontekstual;
- Durasi kegiatan yang fleksibel dan adaptif;
- Kualifikasi pengajar yang kompeten di bidang bela negara;
- Mekanisme pendanaan yang mendukung keberlanjutan program.
Dengan pendekatan sistematis ini, kurikulum bela negara diharapkan menjadi bagian integral dari pendidikan karakter bangsa. Guru dan pelajar dapat memahami bahwa bela negara bukan hanya tentang militer, melainkan tentang kecintaan terhadap tanah air yang diwujudkan melalui tindakan nyata di era digital.
Bagi para pendidik dan pelajar, mari jadikan momen ini sebagai ajakan untuk aktif berpartisipasi. Mulailah dengan membiasakan berpikir kritis terhadap setiap informasi yang diterima, memperkuat literasi digital, dan meneladani nilai-nilai bela negara dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, kita semua turut memperkuat ketahanan nasional menghadapi tantangan perang kognisi dan artificial intelligence.