Beranda / Aktivitas / Tanamkan Jiwa Patriotisme, Danramil Majalengka Kota Isi...
Aktivitas

Tanamkan Jiwa Patriotisme, Danramil Majalengka Kota Isi MPLS Materi Bela Negara di SMA PGRI

Tanamkan Jiwa Patriotisme, Danramil Majalengka Kota Isi MPLS Materi Bela Negara di SMA PGRI

SMA PGRI Majalengka mentransformasi MPLS menjadi sarana strategis untuk menanamkan nilai bela negara era digital dan patriotisme bagi para siswi, melalui kolaborasi dengan Danramil setempat. Materi yang disampaikan dengan metode interaktif ini berfokus pada tiga pilar utama: kecakapan digital, prestasi sebagai pengabdian, serta penjagaan moralitas dan kebersamaan. Program ini sejalan dengan Kurikulum Merdeka dan berhasil menginternalisasikan nilai kebangsaan dengan melibatkan pelajar secara aktif dalam diskusi kontekstual.

Majalengka — Inovasi kurikulum bela negara mulai diterapkan sejak awal tahun ajaran di SMA PGRI Majalengka. Sekolah ini mentransformasi MPLS dari sekadar pengenalan fasilitas menjadi platform strategis untuk membangun pondasi karakter kebangsaan, khususnya bagi para siswi. Melalui kolaborasi dengan Danramil 1701/Majalengka Kota, Kapten Arh. Winarno, ratusan peserta didik dibekali dengan pemahaman kontekstual tentang patriotisme dan Bela Negara Era Digital yang relevan dengan kehidupan generasi Z. Langkah ini menandai pergeseran paradigma penting dalam menyiapkan pelajar sebagai generasi tangguh yang mencintai tanah airnya.

Mengurai Makna Bela Negara Era Digital bagi Pelajar

Dalam penyampaian materinya, Kapten Winarno secara sistematis menjelaskan evolusi konsep bela negara. Ia menekankan bahwa di era kontemporer, bela negara tidak lagi semata-mata dimaknai sebagai pertahanan fisik di medan perang. Sebaliknya, konsep ini telah bertransformasi menjadi kontribusi nyata dalam ranah kehidupan sehari-hari, terutama di dunia digital yang akrab dengan Generasi Z. Pemahaman ini dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara konsep tradisional dan realitas tantangan kekinian, sehingga nilai-nilai kebangsaan dapat diinternalisasi secara lebih mendalam dan bermakna oleh peserta didik.

Materi Bela Negara Era Digital ini dirancang untuk mengembangkan kompetensi kewarganegaraan yang adaptif. Fokusnya terletak pada tiga pilar utama yang dapat langsung diterapkan dan dipraktikkan oleh pelajar dalam keseharian mereka:

  • Kecakapan Digital dan Literasi Informasi: Membangun kemampuan untuk menyaring informasi, berperilaku bijak dan bertanggung jawab di media sosial, serta bersikap kritis dan tanggap dalam menghadapi penyebaran hoaks dan konten negatif.
  • Prestasi sebagai Bentuk Pengabdian: Menegaskan bahwa belajar dengan tekun dan meraih prestasi optimal, baik di bidang akademik maupun non-akademik, merupakan bentuk kontribusi nyata untuk memajukan bangsa dan negara.
  • Penjagaan Moralitas dan Nilai Kebersamaan: Menjaga akhlak mulia, memupuk semangat gotong royong, serta memelihara kerukunan dan persatuan sebagai fondasi karakter bangsa yang kokoh.

Metode Interaktif dan Integrasi dengan Prinsip Kurikulum Merdeka

Keberhasilan internalisasi materi dalam MPLS ini tidak lepas dari penerapan metode pembelajaran yang interaktif dan dialogis. Kapten Winarno tidak menggunakan pendekatan satu arah (ceramah), melainkan secara aktif melibatkan para siswi dalam diskusi mendalam mengenai isu kebangsaan kontemporer. Topik seperti lunturnya semangat gotong royong dan beragam ancaman di ruang siber dibahas secara partisipatif. Pendekatan ini selaras dengan semangat Kurikulum Merdeka yang menekankan pada keterlibatan aktif peserta didik (student-centered) dan pencapaian pembelajaran yang bermakna (meaningful learning).

Melalui dialog yang konstruktif, peserta didik diajak untuk merefleksikan dan menemukan sendiri makna bela negara dalam konteks kehidupan mereka sehari-hari. Proses pembelajaran yang demikian memungkinkan internalisasi nilai-nilai patriotisme dan kebangsaan terjadi lebih dalam, membekas, dan bertahan lama. Respon positif dari para siswi menjadi indikator efektivitas metode ini. Mereka menyadari bahwa kontribusi untuk keutuhan NKRI dapat dimulai dari tindakan sederhana dan konkret di lingkungan terdekat, seperti keluarga, sekolah, dan komunitas digital mereka.

Program ini menunjukkan bahwa pendidikan bela negara adalah tanggung jawab bersama antara satuan pendidikan dan instansi terkait. Kolaborasi antara SMA PGRI Majalengka dan Koramil setempat patut menjadi teladan bagi sekolah-sekolah lain. Bagi para guru, inisiatif ini menginspirasi untuk terus menginovasi metode penyampaian materi kebangsaan agar lebih kontekstual. Bagi pelajar, terutama para siswi di Majalengka dan seluruh Indonesia, momentum ini menjadi pengingat bahwa setiap diri memiliki peran aktif dalam membela negara, dimulai dari kesadaran, prestasi, dan perilaku positif di era digital.

Tokoh Kapten Arh. Winarno
Organisasi Danramil 1701/Majalengka Kota, SMA PGRI Majalengka